Kamis, 22 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Tekanan Kelas Menengah, Pendapatan Turun Tanpa Bantuan Pemerintah

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 22 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Tekanan Kelas Menengah, Pendapatan Turun Tanpa Bantuan Pemerintah

 

JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi kelompok kelas menengah, khususnya kelas menengah-bawah yang mengalami penurunan pendapatan tanpa memperoleh bantuan pemerintah. Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan daya beli dan menahan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Aviliani mengatakan, kelompok kelas menengah memiliki jumlah yang besar, tetapi sebagian menghadapi tekanan pendapatan. Situasi tersebut perlu menjadi perhatian karena kelompok ini dinilai membutuhkan penguatan kemampuan ekonomi untuk mempertahankan konsumsinya.

“Karena yang warna kuning (kelas menengah) ini jumlahnya besar tapi pendapatannya makin turun, dia enggak dapat tunjangan apa-apa (dari pemerintah). Jumlahnya 33 persen dan ini harus ditingkatkan pendapatannya,” kata Aviliani dalam forum diskusi di Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026).

Menurut Aviliani, kondisi kelas menengah perlu dilihat dalam konteks kontribusinya terhadap perekonomian domestik. Ketika pendapatan kelompok tersebut melemah, kemampuan belanja berpotensi ikut terpengaruh dan berdampak pada permintaan barang maupun jasa.

Dalam paparannya, Aviliani membagi masyarakat ke dalam tiga kelompok berdasarkan desil pendapatan. Desil 1–3 dikategorikan sebagai kelas bawah, desil 4–7 sebagai kelas menengah-bawah, sedangkan desil 8–10 masuk kelompok kelas menengah-atas.

Ia menyebut jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia pada 2025 mencapai 46,7 juta orang atau sekitar 16,6 persen dari total populasi. Besarnya jumlah tersebut membuat kondisi ekonomi kelas menengah menjadi salah satu faktor penting dalam membaca perkembangan daya beli masyarakat.

Aviliani juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini bertahan di kisaran 5 persen belum sepenuhnya menggambarkan pemerataan manfaat pertumbuhan. Menurut dia, kelompok berpendapatan lebih tinggi memiliki kontribusi besar terhadap total konsumsi nasional.

Berdasarkan bahan paparannya, kelompok desil 8–10 menyumbang sekitar 53 persen dari total belanja masyarakat. Besarnya kontribusi kelompok tersebut dinilai turut menopang konsumsi nasional meskipun kelompok kelas menengah menghadapi tekanan pendapatan.

“Makanya kita enggak terasa tumbuh 5 persen oke-oke aja kok, tapi jangan lupa yang menikmati adalah yang biru (masyarakat kelas atas),” ujar Aviliani.

Atas kondisi tersebut, Aviliani menekankan pentingnya perhatian terhadap kelas menengah-bawah agar penurunan pendapatan tidak semakin membatasi kemampuan belanja. Penguatan pendapatan kelompok ini dinilai relevan untuk menjaga daya beli sekaligus mendukung konsumsi domestik.

Sorotan Kadin tersebut menempatkan kualitas pertumbuhan ekonomi sebagai isu penting, bukan hanya besaran pertumbuhan secara agregat. Di tengah pertumbuhan yang berada di kisaran 5 persen, perkembangan pendapatan dan distribusi kemampuan konsumsi antarkelompok masyarakat menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai dampak pertumbuhan terhadap kehidupan rumah tangga.

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update