Kamis, 22 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › News
News

BNPB Uji Coba Modifikasi Cuaca Pakai Dry Ice, Ini Alasan dan Tujuannya

✍️ tino 🕒 21 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Aksi pekerja Damkar saat memadamkan api kebakaran hutan kalimantan. Tripodnews/DOK KEMENHUT
Aksi pekerja Damkar saat memadamkan api kebakaran hutan kalimantan. Tripodnews/DOK KEMENHUT

Jakarta, Tripodnews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji penggunaan dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Teknologi ini menjadi alternatif penyemaian awan untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan penggunaan dry ice merupakan alternatif metode penyemaian awan yang selama ini menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl).

Menurutnya, es kering memiliki suhu sangat rendah sehingga berpotensi memicu pembentukan kristal es di dalam awan dan mendukung proses terbentuknya hujan.

“Es ini sifatnya sangat solid dan temperaturnya sangat ekstrem, bisa di bawah minus 78 derajat Celsius. Ini merupakan karbon dioksida yang padat. Suhu dinginnya secara cepat dapat memicu pembentukan kristal es di awan hingga turun menjadi hujan secara alami dan ramah lingkungan,” kata Berton, dikutip Rabu (21/10/2026).

Dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca pada 19 Oktober 2026, BNPB mencatat lima sorti penyemaian awan di Kalimantan Tengah dengan menggunakan 1.600 kilogram dry ice dan 300 kilogram garam.

Sementara itu, di Sumatra Selatan, operasi modifikasi cuaca dilakukan dalam tiga sorti. Dua sorti menggunakan total 1.600 kilogram dry ice, sedangkan satu sorti lainnya menggunakan 800 kilogram garam.

Penggunaan dua bahan tersebut menjadi bagian dari uji coba untuk melihat potensi dry ice sebagai alternatif teknologi penyemaian awan dalam mendukung penanganan dampak karhutla.

BNPB berharap metode tersebut dapat membantu memperbaiki jarak pandang yang menurun akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, penyemaian awan diharapkan dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan pada kondisi atmosfer yang mendukung.

Berton menjelaskan, salah satu potensi penggunaan dry ice adalah dampaknya terhadap kondisi atmosfer yang dapat diamati dalam waktu relatif cepat, termasuk kemungkinan perbaikan jarak pandang.

“Keuntungan dari dry ice ini, dampaknya bisa segera kita lihat, di mana visibility atau jarak pandang membaik. Tentu, dry ice ini bisa menarik bibit-bibit air, sehingga berpotensi menemukan hujan di angkasa, sehingga OMC juga bisa dilaksanakan dengan segera,” ujar dia.

Meski demikian, keberhasilan operasi modifikasi cuaca tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan. Kondisi atmosfer, karakteristik awan, dan ketersediaan awan yang layak untuk disemai tetap menjadi faktor penting dalam pelaksanaannya.

Karena itu, penggunaan dry ice tidak berarti hujan dapat dihasilkan setiap saat atau di semua wilayah yang terdampak karhutla.

BNPB menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca harus disesuaikan dengan kondisi meteorologis di setiap wilayah. Penyemaian tidak dapat dilakukan secara optimal apabila awan yang tersedia tidak memenuhi persyaratan.

Berton mencontohkan operasi modifikasi cuaca di Riau yang telah berakhir pada 25 September 2026 karena wilayah tersebut mengalami hujan alami.

Sebaliknya, operasi modifikasi cuaca di Jambi belum dapat dilaksanakan karena kondisi awan dinilai kurang mendukung dan tingkat kelayakannya relatif rendah.

“Untuk OMC di Riau sudah berakhir pada 25 September 2026, karena memang di sana sudah ada hujan alami yang terjadi. Sedangkan di Jambi kita tidak bisa melakukan penyemaian ataupun melakukan OMC, mengingat di sana tidak ada awan yang kurang mendukung, serta adanya feasibility yang relatif rendah,” jelas Berton.

Uji coba penggunaan dry ice di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi salah satu upaya pemerintah mengembangkan metode operasi modifikasi cuaca untuk mendukung penanganan dampak karhutla.

Namun, efektivitas teknologi tersebut tetap perlu dinilai berdasarkan hasil pelaksanaan di lapangan, termasuk kemampuannya mendukung pembentukan hujan dan membantu mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.

T
tinoRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update