Narabahasa Ramaikan Jakarta International Literary Festival 2026 dengan Tema Kanan Kiri Bahasa
Jakarta, Tripodnews.id - Narabahasa, lembaga pendamping kebahasaan, turut meramaikan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026 melalui rangkaian diskusi, gelar wicara, dan aktivitas kebahasaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 23–25 Oktober 2026.
Mengusung tema “Kanan Kiri Bahasa”, Narabahasa mengajak masyarakat melihat bahasa dari perspektif yang lebih luas. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi verbal, tetapi juga hadir dalam budaya populer, desain visual, musik, gestur, hingga berbagai tanda yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (21/10/2026), Narabahasa menjelaskan bahwa Oktober menjadi momentum untuk merayakan Bulan Bahasa dan Sastra sekaligus merefleksikan peran bahasa dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Melalui partisipasi dalam JILF 2026, Narabahasa ingin membuka ruang diskusi yang menghubungkan bahasa, sastra, budaya populer, dan gaya hidup masyarakat.
Tema “Kanan Kiri Bahasa” diwujudkan melalui sejumlah program rutin Narabahasa, yakni Tanya Jawab Kebahasaan (Tabah), Selisik Kebahasaan (Lisan), dan Kicauan Narabahasa (Kinara).
Program Tabah mengangkat topik “Bahasa dalam Pola Asuh”, sedangkan Lisan membahas “Bagaimana Rupa Menjadi Bahasa?”. Sementara itu, Kinara menyoroti fenomena menurunnya kritik sastra berkualitas.
Rangkaian program tersebut mengajak masyarakat memahami bahwa bahasa tidak terbatas pada percakapan atau tulisan. Bahasa juga dapat ditemukan dalam ekspresi visual, humor internet, karya sastra, dan berbagai bentuk komunikasi yang berkembang di ruang publik.
Selama tiga hari penyelenggaraan Jakarta International Literary Festival 2026, Narabahasa menghadirkan gelar wicara kecil (mini talkshow), gelar wicara utama (talkshow), serta gerai interaktif yang menyediakan permainan kebahasaan bagi pengunjung.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, pengunjung dapat mengikuti gelar wicara bersama Ulwan Fakhri, peneliti humor IHIK3, yang membahas topik “Meme: Jomok dan Timpa Teks Adalah Perlawanan”.
Pada hari yang sama, Asep Ardian, penulis buku Oni Jouska, akan membicarakan “Cendera Mata Sastra”. Kedua sesi ini menghadirkan pembahasan mengenai humor, bahasa, dan sastra dalam konteks budaya populer.
Memasuki Sabtu, 24 Oktober 2026, Narabahasa menghadirkan Wiwik dari Jakarta Book Party melalui sesi bertajuk “Setelah Membaca di Ruang Publik Menjadi Lumrah”.
Agenda dilanjutkan dengan gelar wicara utama bertema “Kanan Kiri Bahasa” yang menghadirkan Yana Setya Nugraha dari Renaive, Puty Puar dari BBB Book Club, dan Klai dari Klai.Co.
Diskusi yang dimoderatori Rauf Muhammad tersebut akan membahas peran bahasa dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk keterkaitannya dengan perkembangan budaya dan gaya hidup masyarakat.
Pada Minggu, 25 Oktober 2026, rangkaian kegiatan Narabahasa berlanjut melalui gelar wicara bertajuk “Puisi-Puisi yang Ditakuti” bersama Wawan Kurniawan, penulis independen.
Sebagai penutup, Ivan Lanin selaku pendiri Narabahasa akan membawakan topik “Menuju Seabad Bahasa Indonesia”.
Sesi tersebut mengajak pengunjung merefleksikan perjalanan dan perkembangan bahasa Indonesia menjelang satu abad bahasa Indonesia pada 2028.
Pembahasan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali peran bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat, sekaligus mempertimbangkan tantangan dan peluang pengembangannya di tengah perubahan sosial dan budaya.
Selain menghadirkan rangkaian diskusi, Narabahasa juga membuka gerai selama tiga hari penyelenggaraan JILF 2026 di Taman Ismail Marzuki.
Gerai tersebut menjadi ruang pertemuan terbuka bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan Kerabat Nara melalui berbagai aktivitas, permainan kebahasaan, dan pengenalan produk kebahasaan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Narabahasa berharap masyarakat dapat melihat bahasa bukan sekadar perangkat komunikasi, melainkan bagian penting dari pembentukan budaya, ekspresi kreatif, dan kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Narabahasa di Jakarta International Literary Festival 2026 sekaligus memperluas ruang perjumpaan antara bahasa, sastra, dan masyarakat melalui pendekatan yang dekat dengan perkembangan budaya populer.
