IHSG Sempat Sentuh 4.907, Airlangga Soroti Pengaruh Sentimen MSCI
JAKARTA — Tekanan jual mendominasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (19/10/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot ke level 4.907,37. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pergerakan tersebut merupakan respons pasar terhadap sentimen negatif yang memengaruhi psikologi investor.
IHSG akhirnya ditutup melemah 3,64% atau 188,49 poin ke posisi 4.996,60. Sepanjang sesi, indeks bergerak pada rentang 4.907,37 hingga 5.012,86, mencerminkan kuatnya tekanan terhadap harga saham.
Pelemahan terjadi secara luas. Dari seluruh saham yang tercatat, sebanyak 656 saham berakhir di zona merah, sedangkan 100 saham tidak mengalami perubahan harga dan hanya 43 saham yang berhasil menguat.
Airlangga menilai fluktuasi indeks perlu dilihat dalam konteks sentimen yang berkembang di pasar keuangan. Menurutnya, munculnya isu yang memicu kekhawatiran investor dapat memengaruhi arah pergerakan saham.
"Itu namanya ya naik turun tergantung pada isu sentimental," kata Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Salah satu isu yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Jumat sebelumnya. Lembaga penyedia indeks global tersebut membuka kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Stand Alone Market.
Potensi perubahan status itu memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap investasi yang mengacu pada indeks MSCI. Respons negatif investor kemudian menjadi salah satu sentimen yang membayangi perdagangan saham domestik.
Di tengah koreksi tersebut, pemerintah turut menyoroti mekanisme Auto Rejection Bawah (ARB) sebagai instrumen untuk membatasi penurunan harga saham dalam perdagangan. Airlangga menyebut batas ARB sebesar 7% relatif membantu menjaga pergerakan harga ketika pasar menghadapi tekanan.
"Itu biasa kalau ada sentimen negatif kan biasa turun, tetapi dengan ada regulasi baru auto rejection 7% kan relatif terjaga dan penutupan tadi 5.000 lebih sedikit," ujar Airlangga.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika IHSG berakhir di bawah level psikologis 5.000 setelah sempat bergerak di atas 5.000 pada awal sesi. Meski mekanisme ARB membatasi penurunan harga saham sesuai ketentuan yang berlaku, pergerakan indeks secara keseluruhan tetap dipengaruhi oleh tekanan jual dan respons investor terhadap perkembangan pasar.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada dinamika sentimen investor, termasuk tindak lanjut atas evaluasi klasifikasi MSCI. Bagi pasar modal Indonesia, respons terhadap isu tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi perilaku investor dan pergerakan harga saham secara luas.
