Kamis, 22 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

IHSG Mulai Rebound, Investor Asing Masih Net Sell Rp2,13 Triliun

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 22 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan yang mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan. Tripodnews/ChatGPT
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan yang mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan. Tripodnews/ChatGPT

JAKARTA — Pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai terlihat setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan jual besar dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Namun, penguatan indeks tersebut belum menjadi bukti bahwa tekanan pasar telah berakhir, terutama ketika investor asing masih mencatatkan penjualan bersih dalam jumlah besar.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai kenaikan IHSG didorong oleh pemulihan teknikal dan aksi investor yang kembali membeli saham setelah harganya terkoreksi tajam. Strategi yang dikenal sebagai bargain hunting ini menjadi salah satu faktor yang membantu indeks bergerak naik.

“Rebound IHSG pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kombinasi technical rebound setelah tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan sebelumnya, aksi bargain hunting terhadap saham-saham yang mengalami koreksi tajam, serta respons positif terhadap langkah pembenahan pasar modal yang dilakukan oleh OJK dan BEI,” ujar Nafan dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).

Di tengah tekanan dari investor asing, aktivitas pembelian domestik turut menopang pergerakan pasar. Menurut data yang disampaikan Nafan, investor asing membukukan net sell sebesar Rp2,13 triliun dalam satu hari perdagangan. Secara kumulatif sejak awal 2026, nilai jual bersih asing mencapai Rp116,45 triliun.

Investor lokal menjadi salah satu penyangga pasar karena berkontribusi sekitar 56% terhadap total transaksi. Pembelian terutama berlangsung pada saham-saham berkapitalisasi besar, yang membantu menyerap sebagian saham yang dilepas investor asing.

Dari perspektif analisis teknikal, Nafan melihat IHSG telah melewati fase awal pola gelombang wave 5/(C)/Y. Sejumlah indikator momentum, termasuk Stochastic K-D dan Relative Strength Index (RSI), juga mulai menunjukkan sinyal positif.

Peningkatan volume perdagangan menjadi faktor tambahan yang mendukung peluang pemulihan indeks. Meski demikian, indikator tersebut perlu dibaca bersama perkembangan transaksi dan sentimen pasar, bukan dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa tren penurunan telah berakhir.

Ketidakpastian terkait evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi salah satu risiko yang membayangi investor. Perkembangan isu tersebut berpotensi memengaruhi persepsi risiko dan keputusan investasi, khususnya bagi pengelola dana yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan.

Nafan mengingatkan bahwa membaiknya pergerakan indeks belum serta-merta mencerminkan pulihnya kepercayaan investor. Keberlanjutan arus beli, kestabilan nilai tukar rupiah, dan efektivitas pembenahan pasar modal akan menjadi faktor penting untuk menilai kekuatan pemulihan.

“Oleh karena itu, rebound saat ini lebih tepat dipandang sebagai fase pemulihan awal yang masih membutuhkan konfirmasi dari keberlanjutan arus beli, stabilitas rupiah, dan efektivitas reformasi pasar modal,” jelasnya.

Dengan demikian, arah IHSG selanjutnya tidak hanya bergantung pada sinyal teknikal, tetapi juga pada kemampuan pasar menyerap tekanan jual dan mempertahankan minat beli. Konsistensi transaksi domestik serta perkembangan sentimen asing akan menjadi bagian penting dalam menentukan apakah penguatan indeks dapat berlanjut.

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update