WGC dan BCG: Emas Digital Berpotensi Buka Pasar Rp12.606 Triliun
JAKARTA – Pasar emas digital global berpotensi membuka permintaan yang belum terealisasi (latent demand) senilai 700 miliar dollar AS atau sekitar Rp12.606,3 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.009 per dollar AS. Potensi tersebut diungkap dalam riset terbaru World Gold Council (WGC) bersama Boston Consulting Group (BCG).
Dalam laporan berjudul Digital Gold: Unlocking a $700-Billion Opportunity yang dikutip pada Selasa (20/10/2026), kedua lembaga menilai peluang tersebut didorong oleh minat investor ritel yang belum sepenuhnya terakomodasi oleh produk dan layanan emas digital yang tersedia saat ini.
Hasil survei dalam laporan tersebut menunjukkan hampir sembilan dari sepuluh responden bersedia mempertimbangkan investasi emas digital apabila sejumlah kondisi pendukung terpenuhi. Temuan ini mengindikasikan adanya ruang bagi pelaku industri untuk memperluas adopsi investasi emas melalui platform digital.
Meski demikian, angka 700 miliar dollar AS tersebut bukan proyeksi nilai pasar yang akan langsung terealisasi dalam waktu dekat. Nilai itu merupakan estimasi potensi permintaan yang dapat dibuka apabila berbagai hambatan adopsi berhasil diatasi.
WGC dan BCG memperkirakan nilai pasar emas digital saat ini berada pada kisaran 45 miliar dollar AS hingga 55 miliar dollar AS, setara sekitar Rp810,41 triliun hingga Rp990,50 triliun berdasarkan asumsi kurs yang digunakan.
Dalam skenario dasar lima tahun, pasar emas digital diperkirakan tumbuh sekitar 27% per tahun hingga mencapai 160 miliar dollar AS sampai 170 miliar dollar AS pada 2031. Nilai tersebut setara sekitar Rp2.881,44 triliun hingga Rp3.061,53 triliun.
Pertumbuhan pasar berpotensi lebih tinggi apabila hambatan adopsi dapat diatasi lebih cepat. Dalam skenario tersebut, nilai pasar emas digital diperkirakan mencapai 270 miliar dollar AS hingga 280 miliar dollar AS pada 2031, atau sekitar Rp4.862,43 triliun sampai Rp5.042,52 triliun.
Perbedaan antara skenario dasar dan skenario pertumbuhan yang lebih cepat menunjukkan pentingnya infrastruktur, akses layanan, serta kepercayaan konsumen dalam mendorong perkembangan investasi emas digital. Namun, angka tersebut tetap merupakan estimasi berbasis skenario, bukan jaminan pertumbuhan pasar.
Chief Executive Officer World Gold Council David Tait mengatakan minat investor terhadap emas digital telah terlihat. Tantangan berikutnya adalah menyediakan infrastruktur yang memungkinkan minat tersebut berkembang menjadi permintaan aktual.
“Besarnya minat investor terhadap emas digital sudah terlihat jelas, tetapi permintaan tersebut tidak akan dapat berkembang tanpa dukungan infrastruktur yang memadai,” ujar Tait dalam keterangan tertulis, Selasa.
Salah satu inisiatif yang dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan industri tersebut adalah Gold as a Service. Model ini dirancang sebagai infrastruktur bersama yang memungkinkan penerbit produk emas digital menghadirkan layanan secara lebih efisien, kompetitif, dan sesuai dengan ketentuan regulasi.
Dukungan yang disiapkan melalui pendekatan tersebut mencakup pengadaan emas, layanan penyimpanan aset atau custody, serta pemenuhan kepatuhan atau compliance. Ketiga aspek ini merupakan bagian penting dari operasional produk emas digital karena berkaitan dengan ketersediaan aset dasar, keamanan penyimpanan, dan pemenuhan kewajiban hukum.
Menurut Tait, penerbit produk emas digital sebelumnya perlu membangun sendiri berbagai kemampuan tersebut. Kebutuhan untuk menyediakan infrastruktur, sistem penyimpanan, dan fungsi kepatuhan secara mandiri dapat menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang ingin memasuki pasar.
Melalui infrastruktur bersama, penerbit diharapkan dapat mengurangi kompleksitas operasional dan lebih berfokus pada pengembangan produk serta layanan bagi investor. Pendekatan ini juga berpotensi memperluas akses terhadap produk emas digital, bergantung pada implementasi dan penerimaan pasar.
Di sisi investor, emas digital menawarkan cara untuk mengakses investasi berbasis emas melalui platform elektronik. Namun, kemudahan transaksi perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai biaya, mekanisme kepemilikan, penyimpanan aset, likuiditas, serta ketentuan penarikan atau penjualan kembali.
Kepercayaan terhadap penyelenggara dan kejelasan mengenai aset yang mendasari produk juga menjadi faktor penting. Investor perlu memahami apakah produk yang dibeli merepresentasikan kepemilikan emas fisik, klaim terhadap penyedia, atau bentuk instrumen lain sesuai struktur produk yang ditawarkan.
Dengan potensi permintaan yang besar, pasar emas digital membuka peluang bagi lembaga keuangan, perusahaan teknologi, dan penyedia layanan investasi. Meski demikian, realisasi peluang tersebut akan bergantung pada kemampuan industri membangun infrastruktur yang andal, meningkatkan transparansi, memenuhi regulasi, serta menjaga kepercayaan investor.
Proyeksi WGC dan BCG memberikan gambaran mengenai ruang pertumbuhan industri dalam beberapa tahun mendatang. Namun, besarnya potensi pasar tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh permintaan akan terealisasi, sehingga perkembangan aktual tetap perlu dipantau melalui data adopsi, nilai transaksi, dan jumlah pengguna.
