OJK Tekankan Keamanan Siber untuk Perkuat Kepercayaan Keuangan Digital
OJK menekankan keamanan siber dan tata kelola keuangan digital untuk menjaga kepercayaan masyarakat serta memperkuat ketahanan bisnis Indonesia.
JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya penguatan tata kelola dan keamanan siber untuk menjaga kepercayaan terhadap ekosistem keuangan digital Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu rekomendasi dalam laporan terbaru yang disusun CPA Australia bersama OJK dan United In Diversity (UID) Foundation.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengatakan, inovasi keuangan perlu didukung sistem keamanan siber yang kuat agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Di sektor keuangan, inovasi dapat menciptakan peluang, namun kepercayaanlah yang memungkinkan peluang tersebut berkembang secara berkelanjutan. Karena itu, kita harus membangun sektor finansial yang kredibel dengan keamanan siber yang tangguh,” ujar Adi di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Laporan bertajuk Keamanan Siber dan Tata Kelola Aset Keuangan serta Transaksi Digital menyoroti sejumlah aspek penting dalam pengembangan keuangan digital. Aspek tersebut mencakup kepastian regulasi, akuntabilitas, kesiapsiagaan menghadapi insiden keamanan, serta kolaborasi antara regulator dan pelaku industri.
Anggota Dewan Pembina UID Foundation Tuti Hadiputranto mengatakan, pengelolaan teknologi menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan keuangan digital.
“Masa depan keuangan digital tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa bijak kita mengelolanya,” kata Tuti.
Menurut laporan tersebut, penguatan tata kelola perlu berjalan seiring dengan pengembangan teknologi. Langkah ini penting untuk menjaga keamanan transaksi, meningkatkan akuntabilitas, dan mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital.
Kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan pemangku kepentingan juga diperlukan untuk memperkuat kesiapan menghadapi risiko siber yang dapat mengganggu operasional serta kepercayaan terhadap ekosistem keuangan.
Selain keamanan siber, laporan kedua yang disusun CPA Australia bersama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyoroti pentingnya ketahanan bisnis dan kepemimpinan keuangan di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan perdagangan, dan disrupsi teknologi.
Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI Ardan Adiperdana mengatakan, kemampuan beradaptasi, kualitas kelembagaan, dan kepercayaan menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing jangka panjang.
“Ketahanan bukan lagi sekadar sikap defensif, melainkan semakin menjadi kemampuan utama yang menentukan daya saing,” ujar Ardan.
Ketahanan bisnis dinilai perlu dibangun melalui kemampuan organisasi dalam merespons perubahan, mengelola risiko, dan mempertahankan kualitas pengambilan keputusan di tengah dinamika ekonomi global.
CEO CPA Australia Chris Freeland mengatakan, dunia usaha, regulator, dan komunitas profesional perlu memperkuat kerja sama untuk menjaga kepercayaan, ketahanan organisasi, dan tata kelola yang baik.
“Penting bagi dunia usaha, regulator, dan komunitas profesional untuk bekerja sama dalam menjaga kepercayaan, ketahanan, serta tata kelola yang kuat guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan,” kata Freeland.
Kedua laporan tersebut juga menyoroti pentingnya kompetensi tenaga kerja, penerapan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) secara bertanggung jawab, transparansi, serta kredibilitas institusi dalam mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Peluncuran kedua laporan tersebut bertepatan dengan pembaruan perjanjian jalur keanggotaan profesional antara CPA Australia dan IAI. Kerja sama ini ditujukan untuk mendukung pengembangan profesi akuntansi di Indonesia.
Melalui penguatan keamanan siber, tata kelola, dan kompetensi profesional, berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun ekosistem keuangan digital yang lebih tepercaya sekaligus memperkuat ketahanan bisnis dalam menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi.
