China Usulkan Pembatasan Ekspor Teknologi AI
Jakarta, Tripodnews.id - Pemerintah China mengusulkan penambahan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) canggih ke dalam daftar pengendalian ekspor. Kebijakan ini berpotensi membatasi transfer model AI, kode sumber, bobot model, hingga desain chip ke luar negeri sebagai upaya memperketat kendali atas teknologi strategis nasional.
Rancangan usulan tersebut mencakup 23 teknologi AI, mulai dari model bahasa besar (large language model/LLM), agen AI, desain chip, hingga klaster komputasi. Pembatasan juga akan mencakup bobot model dan kode sumber produk yang melampaui ambang batas kinerja tertentu.
Langkah tersebut muncul ketika perusahaan rintisan AI China semakin memperlihatkan kemajuan dalam mengejar ketertinggalan dari perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS). Sejumlah perusahaan China kini menawarkan model AI dengan harga lebih kompetitif sekaligus memperluas jangkauan produk ke pasar internasional.
Usulan pembatasan ekspor ini menjadi bagian dari strategi Beijing untuk menjaga penguasaan teknologi penting di tengah persaingan global dalam pengembangan AI.
Pemerintah China menyatakan pembatasan ekspor teknologi AI diperlukan untuk menjaga keamanan dan memastikan teknologi tersebut dapat dikendalikan secara bertanggung jawab.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan, teknologi AI berpotensi disalahgunakan oleh aktor non-negara atau pihak yang memiliki niat jahat untuk menyerang infrastruktur kritis, industri pertahanan, maupun sistem inti pemerintahan.
“Pengelolaan yang diperlukan oleh pemerintah China terhadap teknologi-teknologi ini bertujuan untuk memperkuat dasar keamanan, mencegah penyalahgunaan dan eksploitasi, memastikan bahwa AI tetap berada di bawah kendali manusia, serta mendorong tata kelola internasional terhadap AI,” demikian pernyataan juru bicara tersebut.
Usulan ini juga mencakup teknologi di sektor lain yang dinilai strategis bagi industri China. Secara keseluruhan, pemerintah mengusulkan pengendalian terhadap 40 teknologi dari sejumlah sektor industri.
Selain 23 teknologi AI, rancangan tersebut mencakup lima teknologi biomedis dan 12 teknologi tenaga surya. Teknologi yang menjadi perhatian antara lain platform terapi sel dan gen serta teknologi produksi untuk jenis modul surya canggih tertentu.
Ryan Etzcorn, direktur senior di Ankura China Advisors, menilai langkah tersebut mencerminkan strategi Beijing untuk mempertahankan keunggulan teknologi nasional.
“Ini lebih dari sekadar pemeliharaan rutin. Dengan menargetkan AI, tenaga surya, dan bioteknologi — sektor-sektor di mana Tiongkok memiliki keunggulan yang terus berkembang — Beijing memberi sinyal bahwa hubungan yang lebih stabil dengan Barat tidak berarti mereka akan berdiam diri,” ujarnya.
Rencana pengendalian ekspor tersebut muncul ketika perusahaan AI China semakin aktif mengembangkan model yang mampu bersaing dengan produk perusahaan teknologi AS.
Model seperti Kimi K3 dari Moonshot AI dan versi terbaru DeepSeek disebut menawarkan biaya yang lebih kompetitif. Sejumlah perusahaan China juga mengembangkan pendekatan berbagi bobot model agar pengembang lain dapat membangun aplikasi di atas teknologi tersebut.
Bobot model merupakan parameter hasil pelatihan yang membantu sistem AI menghasilkan keluaran berdasarkan masukan pengguna. Berbagi bobot memungkinkan pihak lain menjalankan atau menyesuaikan model sesuai ketentuan lisensinya, meskipun tidak selalu berarti seluruh kode pelatihan dan data tersedia secara terbuka.
Perusahaan China juga semakin mencari pasar di luar negeri. Salah satunya Z.AI Co., yang menyediakan produk AI melalui penyedia layanan komputasi awan internasional, termasuk Amazon Web Services.
Jika pembatasan ekspor diberlakukan, perusahaan yang ingin menawarkan model AI tertentu ke pasar luar negeri berpotensi menghadapi persyaratan perizinan tambahan.
Dalam rancangan yang diusulkan, pengendalian akan mencakup teknologi inti untuk model yang dilatih menggunakan data yang dikategorikan penting dan memiliki sedikitnya dua triliun parameter.
Model dengan ukuran tersebut disebut mencakup Kimi K3 dan Qwen3.8-Max dari Alibaba Group Holding Ltd. Pembatasan juga berpotensi berlaku bagi model yang masuk dalam 10 besar dunia berdasarkan sejumlah indikator, seperti kinerja, penggunaan, dan keamanan.
Di China, data penting secara umum merujuk pada informasi yang apabila bocor dapat membahayakan keamanan nasional, kegiatan ekonomi, stabilitas sosial, atau keselamatan publik.
Rencana tersebut berpotensi memengaruhi strategi pengembangan laboratorium AI yang terus membangun model dengan kapasitas semakin besar.
Bulan sebelumnya, Alibaba mengumumkan rencana mengembangkan model dengan lima hingga 10 triliun parameter untuk menangani tugas yang lebih panjang dan kompleks.
Apabila ketentuan pembatasan diterapkan, perusahaan yang ingin memindahkan atau menerapkan model berukuran besar ke infrastruktur di luar China kemungkinan perlu menyesuaikan rencana bisnis dan pengembangan teknologinya.
Pemerintah China telah beberapa kali memperbarui daftar teknologi yang dilarang atau dibatasi untuk diekspor. Pada 2020, Beijing menambahkan algoritma ke dalam daftar pengendalian tersebut di tengah ketegangan terkait TikTok dan ancaman pelarangan aplikasi itu oleh pemerintahan pertama Donald Trump di AS.
Dalam usulan terbaru, penerapan model AI yang masuk dalam cakupan pembatasan di luar negeri akan dianggap sebagai ekspor teknologi. Artinya, aktivitas tersebut berpotensi memerlukan persetujuan pemerintah China.
Meski demikian, rancangan tersebut memberikan pengecualian bagi teknologi dan penelitian sumber terbuka yang sudah berada di domain publik.
Pemerintah juga berencana menyediakan prosedur yang lebih sederhana, termasuk mekanisme perizinan otomatis, untuk ekspor yang melibatkan teknologi AI sumber terbuka.
Penerapan teknologi pada infrastruktur luar negeri yang dimiliki penyedia layanan China juga berpotensi memenuhi syarat untuk mendapatkan perizinan otomatis, sesuai ketentuan yang nantinya ditetapkan.
Usulan pengendalian ekspor tersebut berpotensi menambah tantangan bagi industri AI China yang telah menghadapi aturan konten ketat, sistem perizinan, serta risiko sanksi dari AS.
Pembatasan transfer model berparameter besar dapat memengaruhi strategi perusahaan dalam memperluas pasar internasional, membangun kemitraan teknologi, dan menyediakan layanan AI bagi pengembang di negara lain.
Di sisi lain, Beijing menempatkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan teknologi strategis sekaligus mencegah penyalahgunaan AI.
Dampak akhirnya akan bergantung pada aturan yang disahkan, cakupan teknologi yang masuk daftar pengendalian, serta mekanisme perizinan yang diterapkan pemerintah.
Bagi industri teknologi global, perkembangan kebijakan China ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus transfer teknologi AI, persaingan perusahaan internasional, dan pola kerja sama dalam pengembangan kecerdasan buatan.
