Downgrade Gaya Hidup Jadi Cara Kelas Menengah Menata Ulang Standar Hidup
Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup tidak sekadar berkaitan dengan upaya menghemat pengeluaran. Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini mencerminkan cara kelas menengah menegosiasikan kembali standar hidup, identitas sosial, dan batas antara kebutuhan dengan keinginan.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, mengatakan bahwa perubahan gaya hidup tersebut berkaitan dengan cara individu mendefinisikan ulang hal-hal yang dianggap layak, cukup, dan pantas bagi dirinya.
“Secara sosiologis, ini dipahami sebagai renegosiasi identitas sosial, di mana individu menata ulang apa yang dianggap ‘layak’, ‘cukup’, dan ‘pantas’ bagi dirinya,” ujar Rakhmat
Dalam perspektif sosiologi konsumsi, aktivitas belanja dan penggunaan barang bukan semata-mata keputusan ekonomi. Konsumsi juga menjadi tindakan sosial yang digunakan individu untuk menunjukkan posisi, selera, serta keanggotaan dalam kelompok kelas tertentu.
Karena itu, menurut Rakhmat, penurunan gaya hidup tidak selalu berarti seseorang mengalami kemunduran kondisi keuangan. Perubahan tersebut juga dapat menjadi upaya menyesuaikan pola konsumsi dengan kebutuhan dan prioritas yang berbeda.
Bukan Fenomena Baru di Masyarakat
Rakhmat menilai, kecenderungan menurunkan konsumsi sebenarnya bukan fenomena baru di Indonesia. Sebelumnya, masyarakat mengenal istilah “Mantab” atau makan tabungan, serta “Rojali” yang merujuk pada rombongan jarang beli.
Istilah-istilah tersebut menggambarkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat ketika pengeluaran lebih dibatasi. Namun, cara masyarakat membicarakan fenomena ini mengalami perubahan.
“Dulu ada istilah ‘Mantab’ (makan tabungan) atau ‘Rojali’ (rombongan jarang beli). Ini menunjukkan bahwa penurunan konsumsi kini tidak lagi disembunyikan, tetapi dinarasikan secara terbuka dan bahkan diberi makna positif,” kata Rakhmat.
Jika sebelumnya berhemat kerap dipandang sebagai tanda penurunan status sosial, kini perilaku tersebut dapat dibingkai sebagai keputusan rasional, bijak, bahkan menarik untuk ditampilkan di media sosial.
Perubahan cara pandang itu membuat downgrade lifestyle tidak hanya menjadi respons terhadap tekanan ekonomi, tetapi juga bagian dari narasi sosial mengenai bagaimana seseorang mengelola keuangan dan menentukan prioritas hidup.
Antara Tekanan Ekonomi, Tren, dan Perubahan Nilai
Rakhmat membagi fenomena downgrade lifestyle ke dalam tiga lapisan, yakni adaptasi ekonomi, tren sesaat, dan perubahan nilai. Ketiganya dapat muncul secara bersamaan, tetapi proporsinya berbeda pada setiap kelompok masyarakat.
Lapisan paling mendasar adalah adaptasi ekonomi. Dalam konteks ini, penurunan konsumsi menjadi respons terhadap kenaikan biaya hidup, stagnasi upah, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta ketidakpastian pekerjaan.
Ketika pendapatan tidak bertumbuh sejalan dengan kebutuhan, individu perlu menyesuaikan pengeluaran agar kondisi keuangannya tetap terjaga. Penyesuaian itu dapat berupa pengurangan belanja nonesensial, pemilihan produk yang lebih terjangkau, atau perubahan kebiasaan konsumsi sehari-hari.
Lapisan kedua adalah tren sesaat. Fenomena ini muncul ketika penyesuaian gaya hidup diberi label tertentu, dikemas menjadi estetika, atau dijadikan konten di media sosial.
“Tren sesaat muncul ketika adaptasi tersebut diberi label, dijadikan estetika, atau dijadikan konten di media sosial. Unsur tren ini bisa memudar,” ujar Rakhmat.
Artinya, popularitas istilah downgrade lifestyle dapat berkurang seiring perubahan tren, meskipun persoalan ekonomi yang mendorong masyarakat mengurangi konsumsi belum tentu ikut menghilang.
Lapisan ketiga berkaitan dengan perubahan nilai. Rakhmat melihat adanya indikasi bahwa sebagian generasi muda mulai lebih menghargai keamanan finansial, kesehatan mental, dan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang.
Meski demikian, ia menilai belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa perubahan tersebut akan menjadi pergeseran nilai yang permanen. Ketika kondisi ekonomi membaik, konsumsi masyarakat masih berpotensi kembali meningkat.
“Walaupun begitu, sering kali konsumsi kembali melonjak begitu kondisi ekonomi pulih. Untuk saat ini, saya membacanya sebagai adaptasi ekonomi yang sedang dicari pembenaran kulturalnya,” kata Rakhmat.
Dengan demikian, downgrade lifestyle dapat dipahami sebagai pertemuan antara kebutuhan beradaptasi dengan tekanan ekonomi dan perubahan cara masyarakat memaknai konsumsi. Fenomena ini tidak selalu menunjukkan penurunan status sosial, tetapi juga belum tentu mencerminkan perubahan nilai yang permanen.
