IHSG Anjlok 8% Imbas Usulan MSCI, Dana Asing Kabur Bisa Capai Rp234 Triliun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada Jumat (16/10/2026). Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pada perdagangan tersebut, IHSG dilaporkan merosot sekitar 8% ke level 5.392. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penurunan tajam tersebut mencerminkan melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi memicu aksi jual lanjutan.
“Tekanan jual tidak semata-mata ditentukan oleh murah atau mahalnya valuasi saham, tetapi juga oleh meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk menempatkan dananya di Indonesia,” ujar Hendra dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Salah satu risiko yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah potensi keluarnya dana asing atau capital outflow apabila Indonesia benar-benar dikeluarkan dari kelompok pasar berkembang. Perubahan klasifikasi tersebut dapat mendorong investor pasif dan manajer investasi aktif yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan untuk menyesuaikan komposisi portofolionya.
Hendra memperkirakan potensi arus keluar dana asing berada pada kisaran US$2,2 miliar hingga US$13 miliar. Dengan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.000–Rp18.000 per dolar AS, potensi dana yang berisiko keluar dari pasar saham Indonesia diperkirakan mencapai Rp37 triliun hingga Rp234 triliun.
Tekanan jual diperkirakan berpotensi terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau big caps, terutama sektor perbankan. Sejumlah saham yang menjadi perhatian di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Sektor keuangan disebut memiliki porsi sekitar 71,7% dalam bobot MSCI Indonesia Index. Besarnya bobot tersebut membuat saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi menghadapi tekanan apabila investor melakukan penyesuaian portofolio secara serentak.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga mengingatkan risiko tekanan pada saham-saham perbankan besar. Menurutnya, saham dengan bobot indeks signifikan dan kepemilikan asing tinggi berpotensi menjadi sasaran penyesuaian portofolio investor.
“Kondisi ini dapat meningkatkan volatilitas dan memperbesar risiko koreksi IHSG, terutama apabila disertai pelemahan rupiah,” kata Nafan kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG dinilai masih berada dalam area yang rentan terhadap tekanan jual. Setelah penghentian perdagangan sementara, level 5.318 menjadi area dukungan atau support terdekat yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
Hendra memperingatkan, apabila level tersebut tidak mampu menahan tekanan jual, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju level psikologis 5.200. Level tersebut menjadi salah satu skenario risiko lanjutan yang perlu dicermati investor di tengah ketidakpastian terkait klasifikasi pasar modal Indonesia.
Meski demikian, besaran arus keluar dana asing tersebut masih berupa estimasi potensi, bukan jumlah dana yang telah dipastikan keluar. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada keputusan MSCI, respons investor, serta kondisi pasar keuangan domestik dan global.
