Senin, 26 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

ekanan Capital Outflow Meluas, BI Waspadai Pergerakan Pasar Keuangan

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 26 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
ekanan Capital Outflow Meluas, BI Waspadai Pergerakan Pasar Keuangan

 

Bank Indonesia (BI) mencermati meluasnya tekanan arus modal asing keluar (*capital outflow*) dari pasar keuangan domestik. Aksi pelepasan aset oleh investor asing tidak hanya berlangsung di pasar saham, tetapi juga terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Perkembangan tersebut terpantau setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 16 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari *Emerging Market* menjadi *Standalone Market*.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Hutapea mengatakan, bank sentral telah mengamati perubahan aliran investasi asing di sejumlah instrumen keuangan sejak pengumuman tersebut.

“Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow,” ujar Erwin dalam taklimat media di Gedung BI, Jakarta, sebagaimana diberitakan Sabtu (24/10/2026).

Meluasnya arus modal keluar menjadi perhatian BI karena dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan dan likuiditas rupiah di dalam negeri. Bank sentral pun terus mencermati perkembangan transaksi serta pergerakan dana investor asing.

Menurut Erwin, BI merespons kondisi tersebut melalui sejumlah kebijakan moneter untuk memastikan likuiditas rupiah tetap tersedia dan aktivitas transaksi di pasar keuangan dapat berjalan dengan baik.

Tekanan di pasar keuangan juga tercermin dari kenaikan imbal hasil atau *yield* obligasi pemerintah, terutama SBN dengan tenor 10 tahun.

Berdasarkan data Investing.com yang dikutip dalam laporan tersebut, *yield* SBN tenor 10 tahun berada di level 7,16% pada Senin (19/10/2026). Angkanya kemudian meningkat menjadi 7,44% pada perdagangan Kamis (22/10/2026).

Dengan demikian, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami kenaikan sebesar 28 basis poin dalam periode tersebut.

Kenaikan *yield* menunjukkan adanya penyesuaian harga obligasi di pasar sekunder. Dalam perdagangan obligasi, harga dan imbal hasil bergerak berlawanan arah. Ketika harga obligasi turun, tingkat imbal hasilnya cenderung meningkat.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika investor mencermati prospek pasar keuangan Indonesia menyusul konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham domestik.

Meski demikian, konsultasi MSCI belum berarti keputusan penurunan klasifikasi telah ditetapkan. Perkembangan ini tetap menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar di tengah penyesuaian posisi investasi asing.

Bagi BI, kondisi tersebut menegaskan pentingnya menjaga kecukupan likuiditas rupiah dan kelancaran transaksi pasar keuangan ketika tekanan arus modal asing keluar terjadi pada lebih dari satu instrumen investasi.

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update