Lawrence Wong Minta Komitmen Kontrak Gas RI-Singapura Tetap Dipenuhi
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong meminta seluruh pihak tetap menghormati komitmen kontrak komersial menyusul pengumuman Indonesia mengenai pengurangan ekspor gas alam ke Singapura. Pemerintah Singapura juga menegaskan bahwa importir gas akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya sesuai kontrak yang berlaku.
Wong menyampaikan pernyataan tersebut dalam siaran People’s Action Party Awards & Conference 2026, Minggu (25/10/2026). Ia menjelaskan bahwa Singapura masih mengimpor sebagian besar kebutuhan gas alamnya melalui jaringan pipa dari Indonesia, yang menjadi salah satu sumber utama bahan bakar pembangkit listrik negara tersebut.
“Pasokan gas tersebut terikat oleh kontrak-kontrak komersial. Kita mengharapkan semua pihak menghormati komitmen masing-masing, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut,” kata Wong.
Menurut Wong, pengumuman mengenai pengurangan ekspor gas Indonesia disampaikan sehari sebelum pidatonya. Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pemenuhan kewajiban kontraktual di tengah perubahan kebijakan pasokan energi antara kedua negara.
Sementara itu, SKK Migas menyatakan pengurangan pasokan tersebut dilakukan untuk mengalihkan lebih banyak gas guna memenuhi kebutuhan listrik domestik Indonesia. Langkah ini mencerminkan upaya pemerintah memprioritaskan ketersediaan energi bagi kebutuhan dalam negeri.
Berdasarkan informasi Otoritas Pasar Energi Singapura atau Energy Market Authority (EMA), pengurangan pasokan gas mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari. Volume tersebut kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian Singapura.
Untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan, pemerintah Singapura telah menyiapkan sejumlah langkah, termasuk investasi pada terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Infrastruktur terminal LNG memungkinkan Singapura mendatangkan gas dari berbagai negara melalui jalur pengiriman laut. Dengan demikian, negara tersebut memiliki alternatif pasokan di luar jaringan pipa dan tidak sepenuhnya bergantung pada gas dari Indonesia.
Pengembangan infrastruktur LNG menjadi bagian dari upaya Singapura mengelola risiko ketahanan energi ketika terjadi perubahan pasokan. Meski demikian, Wong menekankan bahwa pemenuhan kontrak komersial tetap menjadi hal penting bagi para pihak yang terlibat dalam perdagangan gas.
Perkembangan ini menempatkan pengelolaan kebutuhan energi domestik Indonesia dan pemenuhan kontrak ekspor sebagai dua aspek yang perlu diperhatikan dalam hubungan perda
