Dua Emiten Grup Salim Siapkan Buyback Saham Rp1,5 Triliun
Dua perusahaan dalam Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), menyiapkan dana maksimal Rp1,5 triliun untuk melaksanakan pembelian kembali saham atau buyback. Masing-masing emiten mengalokasikan anggaran hingga Rp750 miliar untuk aksi korporasi tersebut.
Rencana pembelian kembali saham itu disampaikan melalui keterbukaan informasi masing-masing perusahaan pada Jumat (23/10/2026). Kedua emiten menyatakan pendanaan buyback akan menggunakan kas internal perseroan.
Berdasarkan jadwal yang diumumkan, periode pelaksanaan buyback berlangsung mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026. Dalam rentang waktu tersebut, INDF dan ICBP dapat melakukan pembelian saham sesuai ketentuan dan kondisi transaksi di pasar.
Kedua perusahaan menetapkan batas jumlah saham yang dapat dibeli kembali paling banyak 20% dari modal disetor masing-masing perseroan. Namun, realisasi pembelian tidak harus mencapai seluruh anggaran yang telah disiapkan karena bergantung pada pelaksanaan transaksi selama periode buyback.
Rencana ini menjadi aksi korporasi yang dilakukan secara bersamaan oleh dua emiten dalam kelompok usaha Indofood. Meski berada dalam satu grup, INDF dan ICBP memiliki fokus bisnis yang berbeda.
INDF merupakan perusahaan induk dengan kegiatan usaha di sektor makanan dan agribisnis. Sementara itu, ICBP berfokus pada produk konsumen bermerek, termasuk berbagai produk makanan yang dipasarkan kepada konsumen.
Selain mengumumkan anggaran dan jadwal pembelian kembali saham, kedua perusahaan juga menyampaikan proyeksi perubahan laba per saham atau earnings per share (EPS) setelah pelaksanaan buyback.
Proyeksi EPS menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati investor dalam menilai dampak aksi korporasi tersebut. Meski demikian, besarnya perubahan EPS bergantung pada jumlah saham yang benar-benar dibeli kembali serta kinerja laba perseroan.
Dengan total anggaran maksimal Rp1,5 triliun, pelaksanaan buyback INDF dan ICBP akan menjadi salah satu agenda korporasi kedua emiten menjelang akhir 2026. Investor dapat mencermati keterbukaan informasi lanjutan untuk mengetahui realisasi pembelian saham dan dampaknya terhadap struktur permodalan masing-masing perusahaan.
