BI Ungkap Sentimen MSCI Ikut Tekan Rupiah hingga Rp18.084 per Dolar AS
JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp18.084 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap mata uang domestik tidak hanya berasal dari ketidakpastian pasar global dan arus modal keluar, tetapi juga dipengaruhi sentimen investor menyusul pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 24 poin atau 0,13% ke posisi Rp18.084 per dolar AS. Pada awal perdagangan, mata uang Indonesia tersebut masih berada di level Rp18.070 per dolar AS.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar, menjelaskan bahwa respons pelaku pasar saham domestik terhadap pernyataan MSCI turut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Dari sisi domestik, kemarin kawan-kawan bisa paham tentang bagaimana respons dari pelaku pasar saham terkait dengan statement dari MSCI. Ini juga menimbulkan sentimen,” ujar Firman dalam Taklimat Media di Gedung Bank Indonesia, Jumat (23/10/2026).
Menurut Firman, perkembangan tersebut menambah tekanan yang sebelumnya muncul akibat penguatan dolar AS dan perubahan preferensi investasi pelaku pasar global. Kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat pergerakan arus modal menjadi salah satu perhatian utama dalam menjaga stabilitas rupiah.
“Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik, yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian ekonomi global masih dipengaruhi perkembangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas. Kenaikan harga tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara dan memengaruhi keputusan kebijakan moneter bank sentral.
Pada saat bersamaan, imbal hasil instrumen keuangan di negara maju yang masih tinggi membuat aset di pasar tersebut relatif lebih menarik bagi investor. Kondisi ini dapat menghambat aliran modal menuju negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Jalur finansial ini adalah terkait dengan aliran modal termasuk ke Indonesia yang ternyata memang menjadi agak terhambat. Karena imbal hasil di negara maju juga masih tinggi,” kata Firman.
BI menilai perkembangan arus modal perlu dicermati karena dapat memengaruhi neraca pembayaran Indonesia. Ketika dana asing keluar atau arus masuk modal melambat, keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing berpotensi berubah sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Firman membedakan kondisi tersebut dari jalur perdagangan yang dinilai masih relatif terjaga. Dengan demikian, dinamika pasar keuangan internasional menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi eksternal Indonesia saat ini.
Pergerakan rupiah juga memiliki implikasi terhadap prospek ekonomi domestik, terutama melalui potensi perubahan tekanan inflasi. Pelemahan mata uang dapat meningkatkan biaya impor, meskipun besarnya dampak terhadap inflasi bergantung pada perkembangan harga dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Di tengah tekanan nilai tukar, BI menyatakan inflasi domestik masih berada dalam rentang sasaran. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, masih di bawah batas atas sasaran inflasi sebesar 3,5%.
Firman mengatakan BI telah memperhitungkan sejumlah skenario pergerakan nilai tukar dan perkembangan ekonomi global untuk memperkirakan inflasi ke depan. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari pertimbangan bank sentral dalam menilai prospek perekonomian dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah saat ini mencerminkan pertemuan sejumlah faktor, mulai dari penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil di negara maju hingga sentimen domestik terkait MSCI. Perkembangan arus modal dan dampaknya terhadap inflasi menjadi aspek penting yang terus dicermati dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan.
