Sabtu, 31 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Pertamina Salurkan 12.830 Kiloliter B50 dari Kilang Kasim dan Plaju, Ini Tantangannya

✍️ Fernando 🕒 30 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi BBM
Ilustrasi BBM Foto: Istimewa

Pertamina Patra Niaga menyalurkan 12.830 kiloliter B50 dari Kilang Kasim dan Plaju pada Juli 2026. Simak kesiapan operasional dan tantangan distribusinya.

PALEMBANG - Dua pengiriman perdana dari Kilang Kasim, Papua Barat Daya, dan Kilang Plaju, Sumatera Selatan, menandai langkah baru implementasi biodiesel 50 persen atau B50 di Indonesia. Pada Juli 2026, PT Pertamina Patra Niaga menyalurkan total 12.830 kiloliter B50 dari kedua kilang tersebut sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan energi nasional.

Namun, di balik pengiriman ribuan kiloliter tersebut, terdapat tantangan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan pemanfaatan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit. Indonesia harus memastikan bahan bakar memenuhi standar kualitas, dapat disimpan dan disalurkan secara andal, serta tersedia sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Bagi PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga, implementasi B50 menempatkan kesiapan operasional sebagai faktor penting untuk menjembatani kebijakan pemerintah dengan manfaat yang diharapkan. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari volume bahan bakar yang keluar dari kilang, tetapi juga dari kemampuan seluruh rantai pasok menjaga kualitas dan ketersediaan produk hingga sampai ke pengguna akhir.

Dua pengiriman perdana tersebut menjadi gambaran penerapan agenda kemandirian energi ke dalam kegiatan operasional. Pada saat yang sama, implementasi B50 juga menguji kesiapan infrastruktur, pengendalian mutu, serta koordinasi distribusi seiring meningkatnya komposisi biodiesel dalam bahan bakar diesel.

Pada 18 Juli 2026, Kilang Kasim menyalurkan sebanyak 4.600 kiloliter B50 menggunakan kapal MT Krasak. Empat hari kemudian, tepatnya 22 Juli 2026, Kilang Plaju mengirimkan 8.230 kiloliter B50 menuju Integrated Terminal (IT) Palembang.

Kedua pengiriman tersebut menjadi bagian penting dari rantai pasok energi, yakni mengalirkan produk dari fasilitas pengolahan menuju terminal penerimaan sebelum didistribusikan lebih lanjut kepada konsumen.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyebut pengiriman perdana tersebut sebagai salah satu tonggak penting dalam mendukung agenda kemandirian energi nasional.

“Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah,” ujar Kitty di Jakarta belum lama ini.

Sebelum pengiriman dilakukan, Pertamina Patra Niaga menyiapkan berbagai aspek operasional, mulai dari fasilitas dan infrastruktur, proses pencampuran, pengendalian mutu, hingga keselamatan kerja.

Produk B50 yang telah melalui proses pencampuran juga harus menjalani pengujian laboratorium untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi yang ditetapkan. Tahapan ini penting sebelum bahan bakar disalurkan menuju terminal BBM dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Rangkaian proses tersebut menunjukkan bahwa implementasi B50 tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan bahan bakar. Kesiapan fasilitas penerimaan, penyimpanan, pengangkutan, dan penyaluran juga menjadi faktor penentu agar produk dapat menjangkau pengguna akhir secara aman dan andal.

 

F
FernandoPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update