KDKMP Kumpulkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Bioavtur
KDKMP bersama Pertamina Patra Niaga menargetkan pengumpulan 500 ribu liter minyak jelantah dalam empat bulan untuk bahan baku bioavtur dan Green Gasoline.
BANYUMAS - Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar ramah lingkungan. Melalui program percontohan hasil kerja sama PT Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi, pengumpulan minyak jelantah ditargetkan mencapai 500 ribu liter dalam waktu empat bulan.
Program tersebut mulai dijalankan di KDKMP Dawuhan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pada tahap awal, kegiatan percontohan akan melibatkan empat lokasi koperasi di Kabupaten Banyumas sebelum diperluas ke jaringan KDKMP di berbagai daerah.
Dalam program ini, koperasi berperan sebagai pusat pengumpulan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) dari masyarakat. Minyak yang terkumpul selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri energi untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur dan Green Gasoline.
Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi, serta penyerahan minyak jelantah secara simbolis di lokasi pengumpulan.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat rantai pasok bahan baku energi rendah karbon dengan melibatkan masyarakat dan koperasi.
Menurut Mars Ega, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan fasilitas pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Salah satunya melalui Kilang Cilacap, yang selanjutnya akan dikembangkan di sejumlah kilang lain, seperti Balongan, Dumai, dan Plaju.
"Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan fasilitas pengolahan untuk memanfaatkan minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang disiapkan, dan selanjutnya akan dikembangkan di kilang lainnya, antara lain Balongan, Dumai, dan Plaju. Karena itu, kepastian pasokan bahan baku menjadi hal penting agar pengembangan energi ini dapat berjalan secara berkelanjutan," ujar Mars Ega, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, keterlibatan koperasi diharapkan mampu membangun sistem pengumpulan minyak jelantah yang lebih terorganisasi dan berkelanjutan. Dengan begitu, limbah rumah tangga yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi sumber bahan baku industri energi.
"Melalui koperasi, kita ingin membangun sistem pengumpulan yang lebih terorganisasi dan berkelanjutan. Masyarakat mendapatkan nilai tambah dari minyak jelantah yang dikumpulkan, sementara industri memperoleh dukungan pasokan bahan baku untuk mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan. Dengan demikian, manfaat ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan," tambahnya.
Pengembangan ekosistem pengumpulan UCO ini juga menjadi bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga mendukung transisi energi dan memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai program pengumpulan minyak jelantah dapat memperluas kegiatan ekonomi KDKMP sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa dan kelurahan.
Melalui program ini, masyarakat dapat menyerahkan minyak jelantah kepada koperasi untuk mendapatkan nilai ekonomi. Skema tersebut diharapkan mendorong pengelolaan limbah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab sekaligus membuka peluang usaha baru bagi koperasi.
"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga karena KDKMP dapat berperan lebih luas dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Minyak jelantah yang selama ini berpotensi terbuang dapat dikumpulkan melalui koperasi dan dihargai secara ekonomi, sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya pengembangan energi nasional," ujar Ferry.
Ferry berharap seluruh KDKMP di Indonesia dapat terlibat dalam sistem pengumpulan minyak jelantah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri energi.
"Kementerian Koperasi siap mendukung penguatan peran KDKMP di seluruh Indonesia sebagai mitra penyuplai minyak jelantah kepada Pertamina. Kami berharap kerja sama ini dapat berkembang lebih luas, mendukung produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan potensi ekspor di masa depan," pungkas Ferry.
Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Koperasi akan melanjutkan pengembangan program melalui perluasan jaringan pengumpulan minyak jelantah berbasis KDKMP.
Kerja sama ini diharapkan dapat menghubungkan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan limbah rumah tangga dengan kebutuhan industri energi. Selain mendukung pengembangan bahan bakar ramah lingkungan, program tersebut juga diharapkan mendorong ekonomi sirkular dan menciptakan sumber pendapatan baru bagi koperasi serta masyarakat.
