Investor Asing Mulai Borong Saham saat IHSG Tertekan, Analis Ingatkan Risiko
Jakarta – Investor asing mulai mencatatkan pembelian bersih atau net buy saham Indonesia selama tiga hari perdagangan berturut-turut di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski menjadi sinyal yang patut dicermati, analis mengingatkan bahwa arus masuk dana asing tersebut belum cukup untuk memastikan pasar saham telah mencapai titik terendah.
Berdasarkan data yang dikutip Kontan.co.id, investor asing membukukan net buy sebesar Rp30,40 miliar pada Jumat (9/10/2026). Nilai tersebut meningkat menjadi Rp142,75 miliar pada Senin (12/10/2026), kemudian melonjak menjadi Rp570,40 miliar pada Selasa (13/10/2026).
Pada perdagangan Selasa, sejumlah saham menjadi sasaran pembelian investor asing. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp592,5 miliar, diikuti PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp44,7 miliar dan PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp35,3 miliar.
Masuknya dana asing tersebut terjadi ketika IHSG masih mengalami tekanan. Pada Senin (12/10/2026), IHSG turun ke level 5.936,15, kemudian kembali melemah menjadi 5.925,98 pada Selasa (13/10/2026).
Aliran Dana Asing Belum Menjamin IHSG Pulih
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai aksi beli bersih investor asing di tengah pelemahan IHSG layak menjadi perhatian pelaku pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan dana asing dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk penyesuaian portofolio dan strategi investasi jangka pendek.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait perluasan cakupan saham dalam metodologi kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Perubahan cakupan tersebut, termasuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun, membuat lebih banyak saham masuk dalam kelompok yang dipantau menggunakan metodologi tersebut.
Pasar juga menghadapi ketidakpastian akibat beredarnya rumor mengenai kemungkinan sanksi terhadap sejumlah emiten dan perusahaan sekuritas yang diduga terlibat praktik manipulasi harga saham. Kondisi ini menambah kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan.
Nafan menegaskan, arus dana asing dalam beberapa hari perdagangan belum dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa IHSG telah mencapai titik terendah.
“Arus dana harian masih dapat dipengaruhi rebalancing indeks dan strategi jangka pendek,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Net Sell Asing Sepanjang 2026 Capai Rp84,28 Triliun
Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mengingatkan bahwa pembelian bersih dalam beberapa hari terakhir perlu dilihat dalam konteks pergerakan dana asing sepanjang tahun.
Hingga Selasa (13/10/2026), investor asing secara kumulatif masih membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp84,28 triliun. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual asing sepanjang 2026 masih jauh lebih besar dibandingkan pembelian yang terjadi belakangan ini.
Sebagai pembanding, Budi menyebut penjualan bersih investor asing pada 2008, ketika krisis keuangan global terjadi, tercatat sebesar Rp50,17 triliun. Ia menilai arus keluar dana asing pada 2026 menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian serius dalam evaluasi pasar modal Indonesia.
“Net sell investor asing sepanjang 2026 merupakan yang terburuk dibandingkan 1998 dan 2008,” ujar Budi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan investor tidak cukup ditopang oleh pembelian saham dalam beberapa hari. Diperlukan perbaikan kondisi ekonomi, prospek keuntungan emiten, stabilitas pasar keuangan, dan kredibilitas pasar modal agar aliran dana asing dapat kembali secara lebih berkelanjutan.
Empat Faktor yang Bisa Mendorong Dana Asing Kembali
Budi menyebut terdapat sejumlah faktor yang dapat mendukung kembalinya investor asing ke pasar saham Indonesia. Faktor tersebut meliputi stabilitas nilai tukar rupiah, penurunan imbal hasil atau yield US Treasury, revisi naik proyeksi laba emiten, serta kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai berpihak kepada masyarakat.
Stabilitas rupiah menjadi penting karena memengaruhi nilai investasi investor asing ketika dikonversi kembali ke mata uang asalnya. Sementara itu, penurunan yield US Treasury berpotensi mengubah daya tarik aset berisiko di pasar negara berkembang, meskipun dampaknya juga bergantung pada kondisi global dan perbedaan risiko antarnegara.
Dari sisi fundamental, peningkatan proyeksi laba perusahaan dapat memperkuat daya tarik saham apabila didukung pertumbuhan pendapatan dan arus kas yang sehat. Adapun kebijakan fiskal yang efektif dapat membantu menopang daya beli, aktivitas usaha, serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengakui besarnya net sell asing sepanjang 2026 dipengaruhi faktor eksternal maupun domestik.
Menurutnya, BEI berupaya meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kredibilitas pasar modal Indonesia untuk menarik investasi yang berkelanjutan dari investor domestik maupun asing. Upaya tersebut sejalan dengan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal yang didorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Nafan menambahkan, keberhasilan reformasi pasar modal tidak cukup diukur dari realisasi net buy asing dalam periode harian. Perbaikan likuiditas, keterbukaan informasi, kepastian regulasi, dan konsistensi arus modal menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Strategi Akumulasi Saham Perlu Dilakukan Bertahap
Di tengah tekanan IHSG dan mulai masuknya dana asing, investor dapat mempertimbangkan strategi pembelian bertahap atau buy on weakness. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mencermati saham yang mengalami koreksi harga, tetapi masih memiliki fundamental dan prospek bisnis yang memadai.
Nafan mengingatkan agar investor tidak terburu-buru melakukan pembelian secara agresif hanya karena melihat peningkatan net buy asing. Keputusan investasi perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan bisnis, valuasi setelah koreksi, serta likuiditas perdagangan saham yang dipilih.
Investor juga disarankan memantau volume transaksi dan kemampuan harga bertahan di area support. Indikator tersebut dapat membantu menilai apakah tekanan jual mulai mereda atau pelemahan masih berpotensi berlanjut.
