Rabu, 14 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Bukan Sekadar Literasi Keuangan, Kontrol Diri Jadi Tantangan Utama Gen Z Mengelola Uang

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 14 Oct 2026 👁️ 0x dibaca
"iPhone 18 Pro perak baru yang disebut Apple 'lebih disempurnakan'. Tripodnews/HO
"iPhone 18 Pro perak baru yang disebut Apple 'lebih disempurnakan'. Tripodnews/HO

 

Jakarta – Tantangan keuangan Generasi Z (Gen Z) tidak selalu berkaitan dengan kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan uang. Kemampuan mengendalikan diri di tengah dorongan belanja, tren media sosial, dan fenomena fear of missing out (FOMO) justru menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kebiasaan finansial generasi muda.

 

Di era digital, akses terhadap layanan keuangan semakin mudah. Namun, kemudahan transaksi juga dapat membuat seseorang lebih rentan melakukan pembelian impulsif. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai pentingnya menabung belum tentu diikuti kemampuan menerapkannya secara konsisten.

 

Head of Brand Experience & Community BCA Digital, Rudini Triyadi, menilai, tantangan terbesar dalam mengelola keuangan bukan hanya memahami cara menyisihkan pendapatan, tetapi juga menahan keinginan untuk membelanjakannya secara berlebihan.

“Satu kata yang saya dapat dari sekian ratus artikel jurnal yang saya baca: kendalikan. FOMO, YOLO, atau apa pun istilahnya, kunci terbesarnya adalah kemampuan mengendalikan diri. Menabung itu sebenarnya mudah, yang jauh lebih sulit adalah menahan diri untuk tidak belanja,” ujar Rudini

FOMO dan Tekanan Sosial Memengaruhi Keputusan Belanja

Dorongan konsumsi pada generasi muda dapat muncul dari berbagai faktor, mulai dari tren yang berkembang di lingkungan pertemanan hingga paparan konten media sosial. Keinginan mengikuti gaya hidup tertentu terkadang membuat seseorang membeli barang atau menggunakan layanan bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut tertinggal dari lingkungan sekitarnya.

Fenomena tersebut berkaitan dengan FOMO, yaitu perasaan khawatir melewatkan pengalaman atau tren yang sedang populer. Dalam konteks keuangan, FOMO dapat mendorong pengeluaran untuk konser, perjalanan wisata, produk terbaru, hingga pengalaman yang dianggap mencerminkan gaya hidup tertentu.

Selain itu, kecemasan terhadap kondisi keuangan atau financial anxiety dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan finansial. Tekanan untuk mengikuti standar gaya hidup tertentu berpotensi membuat pengeluaran tidak lagi disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

Dalam situasi tersebut, persoalannya bukan semata-mata ketidaktahuan tentang pentingnya menabung. Seseorang bisa memahami konsep anggaran dan perencanaan keuangan, tetapi tetap kesulitan menjalankannya ketika berhadapan dengan dorongan emosional dan godaan konsumsi.

Financial Mindfulness untuk Mengendalikan Belanja Impulsif

Rudini menilai pengendalian diri perlu menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan keuangan yang sehat. Kemampuan tersebut bukan berarti seseorang harus menghindari seluruh bentuk hiburan atau berhenti menikmati hasil kerja, melainkan belajar membuat keputusan belanja secara sadar.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah financial mindfulness, yaitu kesadaran ketika mengambil keputusan terkait uang. Pendekatan ini mendorong seseorang mengenali alasan di balik keinginan membeli sesuatu, mempertimbangkan konsekuensi pengeluaran, dan memberikan jeda sebelum melakukan transaksi.

Belanja impulsif terkadang terjadi karena dorongan untuk memperoleh kepuasan sesaat atau pengakuan sosial. Dengan memberikan waktu sebelum membeli, seseorang memiliki kesempatan untuk menilai apakah barang atau pengalaman tersebut benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan kondisi keuangannya.

Kebiasaan sederhana seperti membandingkan keinginan dengan kebutuhan, menetapkan batas pengeluaran, serta mengevaluasi pembelian dapat membantu memperkuat disiplin finansial. Langkah ini juga dapat mengurangi risiko pengeluaran yang tidak direncanakan.

Literasi Keuangan Perlu Diikuti Perubahan Perilaku

Kemudahan layanan perbankan digital dapat membantu masyarakat mengelola uang melalui pencatatan transaksi, pemantauan saldo, dan pengaturan anggaran. Namun, teknologi tersebut tidak otomatis menjamin seseorang mampu mengendalikan pengeluaran apabila tidak disertai kebiasaan finansial yang disiplin.

Karena itu, literasi keuangan perlu dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan mengenali produk keuangan atau mengetahui cara menabung. Pemahaman tersebut juga perlu diterapkan dalam keputusan sehari-hari, termasuk menentukan prioritas pengeluaran, membangun dana darurat, dan menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial.

Bagi Gen Z, kemampuan mengendalikan diri menjadi salah satu bekal penting untuk membangun stabilitas keuangan jangka panjang. Kebiasaan menunda pembelian yang tidak mendesak, menetapkan tujuan tabungan, dan mengevaluasi pengeluaran secara berkala dapat membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan masa depan.

 

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update