Gibran Respons Evaluasi CELIOS, Sebut Kritik sebagai Bahan Perbaikan Pemerintah
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merespons hasil evaluasi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam laporan tersebut, Gibran memperoleh nilai 2,2 dari skala 1 hingga 10 berdasarkan penilaian kelompok ahli, lebih rendah dibandingkan Presiden Prabowo Subianto yang meraih skor 2,8.
Gibran menyatakan kritik dari masyarakat maupun lembaga independen merupakan bagian dari demokrasi sekaligus masukan bagi pemerintah untuk meningkatkan kinerja. Ia menekankan pentingnya menjadikan evaluasi sebagai dasar perbaikan kebijakan dan cara kerja pemerintah.
“Bagi saya, semua itu adalah bagian dari demokrasi sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah untuk terus memperbaiki diri,” kata Gibran dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul publikasi laporan evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang disusun CELIOS bersama Kabinet Bayangan. Dalam merespons hasil penilaian itu, Gibran tidak secara khusus membantah skor yang diberikan kepadanya. Ia justru menyoroti pentingnya evaluasi untuk memastikan kebijakan pemerintah menjawab kebutuhan masyarakat.
“Baik melalui evaluasi serta perbaikan kebijakan dan cara kerja untuk memastikan kehadiran pemerintah semakin dirasakan masyarakat dan menjawab permasalahan masyarakat di lapangan,” ujarnya.
Penilaian Ahli dan Masyarakat Berbeda
Laporan CELIOS juga memperlihatkan perbedaan hasil penilaian antara kelompok ahli dan masyarakat umum. Dalam penilaian masyarakat, Gibran memperoleh skor 4,9, sedangkan Prabowo mendapatkan nilai 4,6.
Berbeda dengan penilaian kelompok ahli yang memberikan skor 2,2 kepada Gibran dan 2,8 kepada Prabowo, hasil penilaian masyarakat menunjukkan skor yang lebih tinggi bagi keduanya. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa penilaian terhadap kinerja pemerintahan dapat bervariasi menurut kelompok responden yang digunakan dalam evaluasi.
Namun, perbedaan skor tersebut belum cukup untuk menjelaskan faktor yang memengaruhi penilaian masing-masing kelompok. Penjelasan lebih terperinci memerlukan informasi mengenai metodologi survei, karakteristik responden, serta indikator yang digunakan dalam mengukur kinerja presiden dan wakil presiden.
Selain menilai kinerja pimpinan pemerintahan, laporan CELIOS bersama Kabinet Bayangan juga mencatat tingkat kekhawatiran kelompok ahli terhadap arah kebijakan pemerintah. Sebanyak 92% ahli yang disurvei menyatakan khawatir, dengan 80% di antaranya mengaku sangat khawatir.
Temuan tersebut menjadi bagian dari gambaran evaluasi eksternal terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Meski demikian, angka tersebut perlu dipahami sesuai cakupan survei dan karakteristik responden, sehingga tidak serta-merta dianggap mewakili pandangan seluruh masyarakat Indonesia.
Dalam menanggapi hasil evaluasi tersebut, Gibran menekankan bahwa pemerintah perlu melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Ia menyebut evaluasi dan penyempurnaan kebijakan sebagai bagian dari upaya agar kehadiran pemerintah semakin dirasakan masyarakat.
Pendekatan tersebut menempatkan kritik sebagai masukan dalam proses perbaikan pemerintahan. Namun, keterangan Gibran yang tersedia belum merinci kebijakan tertentu yang akan diubah ataupun langkah konkret yang disiapkan sebagai tindak lanjut atas laporan CELIOS.
Hasil evaluasi ini menjadi salah satu masukan eksternal untuk menilai kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun. Sementara itu, respons Gibran menegaskan bahwa ia memandang kritik dari masyarakat dan lembaga independen sebagai bagian dari demokrasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki kebijakan serta pelayanan pemerintah.
