Rabu, 04 Nov 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › News
News

Amran Sebut Negara Lain Bisa Kiamat Jika Indonesia Setop Ekspor Sawit

✍️ Fernando 🕒 03 Nov 2026 👁️ 0x dibaca
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Foto: Ist

Mentan Amran menyebut penghentian ekspor sawit Indonesia bisa berdampak besar bagi negara lain. Sawit dinilai strategis untuk kemandirian energi.

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut sejumlah negara dapat menghadapi dampak besar jika Indonesia menghentikan ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Pasalnya, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia yang memasok kebutuhan berbagai negara, termasuk India, China, Pakistan, dan Amerika Serikat.

Menurut Amran, komoditas sawit memiliki daya tawar strategis di tingkat internasional. Bahkan, dia menilai penghentian pasokan sawit Indonesia berpotensi menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan bom atom maupun senjata nuklir.

"Contoh bahwa ini bisa mengubah dunia. Ini jauh lebih dahsyat bom atom. Ini jauh lebih dahsyat daripada nuklir. Ini bisa mengubah peta dunia. Sawit ini kita produsen terbesar dunia. Ekspor kita ke India, China, Pakistan, Amerika, dan sebagainya," ujar Amran, dikutip dari keterangan resminya, Selasa (3/11/2026).

Amran menggambarkan besarnya ketergantungan negara lain terhadap pasokan minyak kelapa sawit dari Indonesia. Menurutnya, jika ekspor dihentikan dan seluruh produksi dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik, negara-negara tujuan ekspor akan merasakan dampak signifikan.

"Pertanyaan saya, kalau ini dihentikan, lalu dijadikan biosolar di dalam negeri, kiamat tidak negara lain? Kiamat ya, kalah enggak nuklir, bom atom? Kalah. Indonesia nanti tidak bergantung untuk pangan dan energi," lanjutnya.

Amran menilai optimalisasi pemanfaatan sawit untuk kebutuhan energi domestik dapat memperkuat kemandirian Indonesia. Komoditas tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biosolar sehingga ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri dapat dikurangi.

Dengan posisi sebagai produsen sawit terbesar dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan komoditas tersebut tidak hanya sebagai produk ekspor, tetapi juga sebagai sumber energi bagi kebutuhan dalam negeri.

Pemanfaatan sawit untuk energi domestik juga dinilai dapat meningkatkan daya tawar Indonesia dalam perdagangan internasional sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, pemerintah mencatat perkembangan positif dalam upaya mencapai swasembada pangan nasional. Indonesia telah mencapai swasembada pada 8 dari 11 komoditas pangan pokok strategis.

Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung pakan, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi.

Sementara itu, Indonesia masih membutuhkan pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan tiga komoditas, yakni kedelai, bawang putih, dan daging ruminansia.

Meski demikian, porsi impor ketiga komoditas tersebut tercatat tidak lebih dari 5% dari total kebutuhan konsumsi pangan nasional.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), total kebutuhan konsumsi 11 komoditas pangan pokok strategis diperkirakan mencapai sekitar 68,8 juta ton.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan pangan dari luar negeri.

F
FernandoPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update