Jumat, 06 Nov 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

60,6 Juta Ton Biomassa Belum Tergarap, Intip Peluang Bisnisnya

✍️ Fernando 🕒 05 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi Biomassa
Ilustrasi Biomassa Foto: Istimewa

PLN EPI dorong generasi muda mengembangkan bisnis bioenergi. Potensi biomassa Indonesia yang belum dimanfaatkan mencapai 60,6 juta ton per tahun.

JAKARTA - Generasi muda didorong untuk mengembangkan peluang bisnis bioenergi melalui inovasi teknologi, pengolahan limbah, dan penguatan rantai pasok biomassa. Langkah ini dinilai dapat membuka peluang kewirausahaan hijau sekaligus mendukung percepatan transisi energi menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060.

Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir, mengatakan Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi biomassa yang belum dimanfaatkan mencapai 60,6 juta ton per tahun.

Menurut Hokkop, potensi tersebut menjadi peluang strategis bagi generasi muda untuk membangun bisnis berkelanjutan berbasis sumber daya lokal, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

"Bioenergi bukan sekadar tentang menggantikan bahan bakar fosil, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem bisnis baru yang berkelanjutan. Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujar Hokkop dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi sumber daya biomassa nasional secara indikatif mencapai 283,2 juta ton per tahun. Setelah memperhitungkan faktor teknis dan berbagai penyesuaian, ketersediaan biomassa yang dapat dimanfaatkan diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, masih terdapat potensi biomassa sebesar 60,6 juta ton per tahun yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Sumber biomassa tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari limbah perkebunan kelapa sawit, limbah pertanian, biomassa kayu, sekam padi, hingga limbah organik perkotaan. Berbagai material tersebut berpeluang diolah menjadi komoditas energi maupun produk industri bernilai ekonomi.

Hokkop menyebut pemanfaatan biomassa tidak terbatas pada bahan bakar pembangkit listrik. Berbagai produk turunan juga dapat dikembangkan, seperti biochar, syngas, biohidrogen, hingga biofuel.

"Potensi ini membuka ruang yang sangat luas bagi tumbuhnya inovasi dan kewirausahaan. Biomassa dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari bahan bakar pembangkit listrik, biochar, syngas, biohidrogen, hingga biofuel. Artinya, peluang bisnisnya tidak berhenti pada penyediaan energi listrik, tetapi juga mencakup industri pengolahan dan pemanfaatan limbah," kata Hokkop.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, PLN EPI terus memperkuat ekosistem bioenergi melalui pengembangan rantai pasok biomassa yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan skema fasilitas sub-hub, hub, dan main hub. Skema ini menghubungkan proses pengumpulan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi biomassa kepada pengguna akhir.

Pengembangan rantai pasok tersebut membuka peluang keterlibatan berbagai pihak, termasuk petani, koperasi, kelompok usaha, pemerintah daerah, dan mitra swasta dalam ekosistem bioenergi nasional.

Hokkop menilai generasi muda memiliki peran penting dalam mempercepat pengembangan ekosistem tersebut. Peluang inovasi terbuka lebar, terutama dalam teknologi pengolahan biomassa, digitalisasi rantai pasok, serta pengembangan produk turunan berbasis sumber daya lokal.

Kolaborasi antara dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan dapat melahirkan wirausaha baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap tantangan energi dan lingkungan.

"Kami ingin generasi muda melihat sektor energi sebagai ruang inovasi dan kewirausahaan. Ada banyak peluang yang bisa dikembangkan, mulai dari teknologi pengolahan biomassa, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan produk turunan. Dengan kreativitas dan inovasi, sumber daya yang sebelumnya dianggap limbah dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru," ujarnya.

Sejalan dengan pengembangan ekosistem bioenergi, PLN EPI juga terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara melalui program cofiring di pembangkit listrik PLN Group.

Hingga Oktober 2026, program cofiring telah diterapkan di 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Total pemanfaatan biomassa mencapai sekitar 1,84 juta ton dengan potensi penurunan emisi sebesar 1,87 juta ton CO2e per tahun.

Untuk memperkuat keandalan pasokan dan meningkatkan efisiensi operasional, PLN EPI juga mengembangkan sistem digital Integrated Biomass Operation (IBO). Sistem ini digunakan untuk memantau pelaksanaan program cofiring di seluruh PLTU yang telah menerapkan pemanfaatan biomassa.

Dalam skenario pengembangan bioenergi yang dipaparkan PLN EPI, pemanfaatan biomassa hingga 20 juta ton per tahun berpotensi menciptakan 150 ribu lapangan kerja hijau atau green jobs. Selain itu, pemanfaatan tersebut diproyeksikan dapat mendukung penurunan emisi hingga 12 juta ton CO2e.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya berperan dalam diversifikasi sumber energi, tetapi juga berpotensi memperkuat perekonomian daerah, meningkatkan nilai tambah limbah, serta memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

Dengan potensi sumber daya yang besar dan dukungan pengembangan rantai pasok, sektor bioenergi diharapkan menjadi salah satu peluang bisnis masa depan bagi generasi muda sekaligus mendukung pencapaian target transisi energi nasional menuju NZE 2060.

F
FernandoPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update