Jumat, 16 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Rupiah Tertekan ke Rp17.956 per Dolar AS, BI Perkuat Intervensi Pasar

✍️ Fernando 🕒 15 Oct 2026 👁️ 0x dibaca
Ilustrasi Rupiah
Ilustrasi Rupiah Foto: Istimewa

BI memperkuat intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa data inflasi AS yang melampaui ekspektasi pasar memicu spekulasi mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

"Rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed," kata Erwin dalam keterangan resminya, Kamis (15/10/2026).

Selain inflasi dan prospek suku bunga acuan AS, eskalasi konflik di Timur Tengah turut meningkatkan risiko fiskal dan memengaruhi pergerakan indikator keuangan global.

"Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan. Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen," jelasnya.

Erwin menambahkan, memburuknya sentimen pasar atau risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus modal keluar (capital outflow) dari aset-aset negara berkembang (emerging markets).

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah masih relatif terukur dan sejalan dengan dinamika mata uang di kawasan regional.

"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen. Cadangan devisa tercatat terjaga di level USD146,3 miliar pada akhir September 2026," jelas Erwin.

Untuk meredam volatilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi secara konsisten melalui berbagai instrumen di pasar keuangan domestik maupun offshore.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ujar Erwin.

Selain intervensi pasar, BI juga menjaga kecukupan likuiditas dan memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar serta korporasi untuk mendukung stabilitas pasar keuangan.

"Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," pungkasnya.

Tekanan terhadap rupiah juga terlihat pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Nilai tukar rupiah dibuka melemah di tengah sentimen domestik dan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate (FFR) pada bulan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka terdepresiasi 0,3 persen ke level Rp17.956 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Rabu (14/10/2026), rupiah juga berada dalam tekanan akibat penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Rupiah ditutup melemah di kisaran Rp17.902 per dolar AS, seiring aksi jual aset portofolio oleh investor asing di pasar negara berkembang.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, serta koordinasi intensif dengan pelaku pasar. Langkah ini ditujukan agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

F
FernandoPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update