Rabu, 28 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Pendapatan MAPB Tumbuh 9%, Kerugian Bersih Membengkak 45%

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 28 Oct 2026 👁️ 0x dibaca
Pendapatan MAPB Tumbuh 9%, Kerugian Bersih Membengkak 45%

 

PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), pengelola gerai Starbucks di Indonesia, membukukan pertumbuhan pendapatan sepanjang Januari–September 2026. Namun, kenaikan penjualan tersebut belum sejalan dengan perbaikan profitabilitas, seiring meningkatnya beban pokok penjualan dan membengkaknya kerugian bersih perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan MAPB mencapai Rp2,56 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026. Realisasi ini meningkat 9,02% dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara nominal, pendapatan perusahaan bertambah sekitar Rp210 miliar. Meski demikian, pertumbuhan tersebut belum cukup untuk memperbaiki kinerja laba bersih. Kerugian bersih MAPB justru meningkat hampir 45% secara tahunan.

Dari sisi komposisi pendapatan, segmen minuman menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan Rp1,43 triliun. Nilai tersebut setara sekitar 55,86% dari total pendapatan perusahaan.

Segmen makanan menempati posisi berikutnya dengan kontribusi Rp984,72 miliar atau 38,47%. Sementara itu, segmen lain-lain menghasilkan pendapatan Rp152,87 miliar.

Di tengah peningkatan penjualan, perusahaan menghadapi tekanan dari sisi biaya. Beban pokok penjualan MAPB tercatat sebesar Rp831,12 miliar hingga akhir September 2026, naik 15,50% dibandingkan Rp719,56 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut mencapai sekitar Rp111,56 miliar secara nominal. Dengan laju pertumbuhan beban pokok penjualan yang melampaui pertumbuhan pendapatan, ruang perusahaan untuk mempertahankan margin laba bruto menjadi lebih terbatas.

Meski begitu, laba bruto MAPB masih meningkat menjadi sekitar Rp1,73 triliun dari Rp1,63 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Kenaikan nominal laba bruto ini belum mampu mencegah penurunan marginnya.

Margin laba bruto perseroan menyusut dari sekitar 69,38% pada periode sebelumnya menjadi 67,53% pada Januari–September 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa porsi pendapatan yang tersisa setelah dikurangi beban pokok penjualan semakin kecil.

Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan MAPB belum sepenuhnya tercermin dalam perbaikan kinerja keuangan. Kenaikan biaya yang lebih cepat daripada pertumbuhan penjualan menjadi salah satu tekanan yang terlihat pada hasil usaha perusahaan selama sembilan bulan pertama tahun ini.

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update