Rabu, 28 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

ASEAN Diproyeksikan Jadi Importir Bersih Gas pada 2032, Pertamina Dorong Kolaborasi

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 28 Oct 2026 👁️ 0x dibaca
ASEAN Diproyeksikan Jadi Importir Bersih Gas pada 2032, Pertamina Dorong Kolaborasi

 

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) diproyeksikan menjadi importir bersih gas atau net importer pada 2032. Proyeksi tersebut berkaitan dengan menurunnya produksi migas di kawasan, sehingga mendorong perlunya penguatan investasi dan kerja sama untuk menjaga ketahanan energi regional.

PT Pertamina (Persero), sebagai salah satu perusahaan energi nasional yang tergabung dalam ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE), mendorong peningkatan kolaborasi antarnegara untuk mengantisipasi potensi kesenjangan pasokan tersebut.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan, negara-negara ASEAN perlu menyusun perencanaan jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan hidrokarbon masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi bagi generasi mendatang.

"Kalau kita lihat prospeknya ke depan, ASEAN ini akan defisit di beberapa hidrokarbon yang dibutuhkan oleh masyarakat. Agar nanti anak cucu kita bisa survive, tentu kita harus membuat perencanaan yang matang, bagaimana kita bisa memperbanyak produksi di masing-masing negara dan juga kemudian untuk aktif berinvestasi bersama-sama di kawasan yang lain," ujar Oki dalam agenda 51st ASCOPE di The Meru Sanur, Bali, Selasa (28/10/2026).

Ia menambahkan, kawasan ASEAN diperkirakan akan menjadi importir bersih gas setelah 2032.

"Ekspektasinya setelah 2032 kita akan ASEAN akan net importer untuk gas," lanjut Oki.

Mengantisipasi proyeksi tersebut, negara-negara ASEAN mendorong kerja sama untuk meningkatkan produksi migas sekaligus memperkuat infrastruktur energi. Upaya ini mencakup investasi di sektor hulu migas, pengembangan sarana pendukung pasokan dan distribusi, serta pengembangan energi terbarukan.

Menurut Oki, penguatan kolaborasi menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik global. Gangguan geopolitik dapat memengaruhi kelancaran pasokan dan distribusi energi, sehingga negara-negara di kawasan perlu memperkuat kesiapan menghadapi berbagai risiko.

"Di bidang ketahanan, kita mendiskusikan bagaimana kita sebagai ASEAN untuk bekerja lebih banyak lagi bersama-sama untuk memastikan investasi lebih banyak mengalir ke sektor hulu migas dan juga ke sektor infrastruktur, dan juga ke sektor energi terbarukan di Indonesia," ujar Oki.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas kapasitas produksi di negara-negara ASEAN, meningkatkan keandalan infrastruktur, serta memperkuat pilihan sumber energi di kawasan.

Bagi Pertamina, forum ASCOPE menjadi salah satu wadah untuk membahas peluang kolaborasi antarperusahaan energi nasional dan pemangku kepentingan regional. Penguatan investasi dan koordinasi dinilai penting untuk mengantisipasi perubahan keseimbangan pasokan dan kebutuhan energi dalam jangka panjang.

Proyeksi ASEAN menjadi importir bersih gas pada 2032 menjadi pengingat akan pentingnya perencanaan energi regional. Meski demikian, realisasi proyeksi tersebut akan bergantung pada perkembangan produksi, permintaan, investasi, dan kebijakan energi masing-masing negara.

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update