Kepemilikan Mobil RI Baru 99 per 1.000 Penduduk, Pasar Otomotif Dinilai Masih Luas
Rendahnya rasio kepemilikan mobil di Indonesia dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara dinilai membuka peluang pertumbuhan industri otomotif nasional. Namun, potensi tersebut perlu ditopang oleh peningkatan daya beli masyarakat agar permintaan kendaraan baru dapat tumbuh.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyebut kepemilikan mobil di Indonesia baru mencapai 99 unit per 1.000 penduduk. Angka itu masih jauh di bawah Malaysia yang mencapai 490 unit dan Thailand sebanyak 275 unit per 1.000 penduduk.
“Rasio kepemilikan mobil kita itu baru 99 per 1.000. Itu masih jauh dibandingkan negara di ASEAN sekitar kita, masih cukup jauh. Misalkan Malaysia sampai 490, Thailand 275,” kata Sarmuji setelah audiensi dengan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Menurut Sarmuji, perbedaan rasio tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi pasar otomotif domestik untuk berkembang. Jika kepemilikan kendaraan meningkat, permintaan di pasar dalam negeri berpotensi mendorong kenaikan produksi mobil nasional.
“Jadi kalau itu rasio kepemilikan mobilnya bisa meningkat, itu pasti produksi akan lebih besar lagi,” ujarnya.
Pertumbuhan industri otomotif juga dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Sarmuji menyebut Toyota mempekerjakan sekitar 8.000 orang secara langsung, sementara jumlah pekerja yang terkait dengan rantai pasok dan jaringan dealer mencapai 360.000 orang.
Besarnya keterlibatan tenaga kerja tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas otomotif tidak hanya berkaitan dengan manufaktur kendaraan, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan pendukung. Peningkatan produksi dan ekspor, menurut Sarmuji, dapat memperluas dampak ekonomi industri tersebut.
Meski demikian, peluang pertumbuhan pasar mobil baru masih menghadapi tantangan dari sisi daya beli. Potensi pasar yang besar belum otomatis berujung pada peningkatan pembelian apabila kemampuan masyarakat untuk membeli kendaraan baru belum menguat.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto menekankan pentingnya stimulus untuk mendorong daya beli dan meningkatkan permintaan mobil baru. Ia juga menyoroti pergeseran pasar ke kendaraan bekas.
“Kami tadi menyampaikan mengenai pentingnya stimulus untuk meningkatkan daya beli, sehingga pembelian mobil baru itu meningkat. Karena sekarang market-nya bergeser kepada used car,” kata Nandi.
Pernyataan tersebut menempatkan daya beli sebagai salah satu faktor penting dalam upaya memanfaatkan potensi pasar otomotif Indonesia. Di satu sisi, rasio kepemilikan mobil yang relatif rendah menunjukkan ruang pertumbuhan; di sisi lain, peningkatan permintaan kendaraan baru tetap membutuhkan dukungan kondisi ekonomi dan kemampuan belanja masyarakat.
