JP Morgan Proyeksi Dividend Yield Antam Tembus 14%, Target Harga Rp4.700
JAKARTA – Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dinilai memiliki potensi imbal hasil dividen atau dividend yield dua digit. JP Morgan memperkirakan dividend yield emiten pertambangan tersebut dapat mencapai 14%, didukung proyeksi pertumbuhan laba dan eksposur pendapatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
JP Morgan memasukkan ANTM sebagai salah satu saham pilihannya di tengah tekanan pasar saham Indonesia akibat gejolak terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Bank investasi asal Amerika Serikat itu menilai valuasi saham Antam relatif murah dan menawarkan potensi imbal hasil dividen yang menarik.
Dalam risetnya, JP Morgan memperkirakan saham ANTM diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sebesar 4 kali berdasarkan proyeksi kinerja 2027. Pada saat yang sama, potensi dividend yield saham tersebut diperkirakan mencapai 14%.
“Saham ANTM kini diperdagangkan dengan PER 4 kali berdasarkan proyeksi 2027 dan yield dividen 14%. Pendapatan dan laba bersih Antam juga memiliki eksposur kuat dengan dolar AS sehingga bisa menjadi alat lindung nilai alami dari pelemahan rupiah,” tulis JP Morgan dalam risetnya.
Berdasarkan penilaian tersebut, JP Morgan memberikan rekomendasi overweight untuk saham ANTM dengan target harga Rp4.700.
Penilaian JP Morgan juga menyoroti karakteristik pendapatan Antam yang memiliki keterkaitan kuat dengan dolar AS. Eksposur tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan alami terhadap dampak pelemahan nilai tukar rupiah, meskipun kinerja perusahaan tetap dipengaruhi dinamika harga komoditas dan faktor operasional.
Pandangan positif terhadap saham komoditas juga disampaikan Indo Premier Sekuritas. Dalam risetnya, sekuritas tersebut menilai sektor komoditas berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan pasar saham secara keseluruhan.
Salah satu faktor pendukungnya adalah karakteristik pendapatan sejumlah emiten komoditas yang banyak terekspos dolar AS. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi penopang ketika rupiah menghadapi tekanan.
Dalam analisis sensitivitas, Indo Premier memasukkan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), ANTM, dan PT Timah Tbk (TINS) sebagai sejumlah saham yang mengalami tekanan harga cukup besar di tengah gejolak pasar.
Meski demikian, ketiga saham tersebut dinilai masih memiliki potensi imbal hasil dividen di atas 10%. Indo Premier melihat tekanan harga saham di tengah kondisi pasar dapat membuka peluang bagi investor yang mempertimbangkan valuasi dan potensi pembagian dividen.
“Kondisi tersebut justru menciptakan peluang yang bagus untuk melakukan pembelian saham komoditas,” tulis Indo Premier dalam risetnya.
Proyeksi kedua sekuritas tersebut menempatkan saham komoditas sebagai salah satu sektor yang mendapat perhatian di tengah volatilitas pasar. Namun, estimasi dividend yield tetap bergantung pada realisasi laba, keputusan pembagian dividen, serta harga saham yang menjadi dasar perhitungan.
