Tak Lagi Mengejar Gengsi, Pekerja Pilih Menabung untuk Hadapi Ketidakpastian
JAKARTA — Menjaga pengeluaran tetap terkendali menjadi pertimbangan penting bagi sebagian pekerja di tengah biaya hidup yang semakin mahal dan ketidakpastian pekerjaan. Kebiasaan yang sebelumnya dianggap sebagai bentuk menikmati hasil kerja, seperti makan di restoran mahal, berbelanja di mal, hingga bepergian dengan mobil, kini mulai dikurangi.
Perubahan tersebut dikenal sebagai downgrade lifestyle, yakni keputusan menyesuaikan gaya hidup agar pengeluaran lebih sejalan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Bagi sebagian orang, mengurangi kenyamanan dan konsumsi bukan sekadar soal berhemat, melainkan upaya menyiapkan cadangan keuangan untuk masa depan.
Amel (28), pekerja swasta, mengaku mengalami perubahan dalam mengelola penghasilannya. Saat baru bekerja, ia terbiasa pergi ke mal, makan di restoran, dan berbelanja setiap kali menerima gaji. Kini, kegiatan tersebut semakin jarang dilakukan
“Kalau dulu pas baru-baru kerja karena pengin banget nikmatin hasil kerja setiap gajian wajib ngemal atau makan di restoran dan belanja, kalau sekarang udah jarang banget,” ungkap Amel
Amel mengatakan, kebiasaan berbelanja dan makan di mal sebelumnya dapat menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sekali kunjungan. Sekarang, ia lebih berhati-hati sebelum mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk kegiatan tersebut.
Menurut Amel, mahalnya biaya hidup berjalan beriringan dengan ketidakpastian mengenai keberlangsungan pekerjaan. Ia melihat risiko kehilangan penghasilan sebagai alasan untuk mengalihkan uang yang sebelumnya digunakan untuk bersenang-senang ke tabungan.
“Kita enggak tahu bisa kerja sampai kapan, ada orang yang kerjanya enak tiba-tiba di-PHK, mendadak enggak punya gaji, bingung menyambung hidup, jadi sekarang duit yang biasa buat foya-foya ditabung, ibaratnya simpan gengsi untuk selamatkan masa depan,” sambung dia
Penyesuaian juga dilakukan Amel bersama suaminya dalam memilih moda transportasi. Jika sebelumnya mobil menjadi pilihan untuk bepergian, kini mereka lebih sering menggunakan sepeda motor untuk menekan biaya perjalanan.
Pengeluaran bensin menjadi salah satu pertimbangan utama. Menurut Amel, sekali membeli bensin untuk mobil, biaya yang dikeluarkan paling sedikit sekitar Rp 200.000, belum termasuk tol. Sementara itu, penggunaan sepeda motor dinilai lebih hemat untuk aktivitas rutin.
“Kalau dulu kan naik mobil biar nyaman, sekarang mikir bensinnya mahal banget, kalau naik motor RP 50.000 bisa satu minggu kalau cuma dipakai pulang balik kerja aja,” jelas dia.
Perubahan tersebut membuat Amel dan suaminya bersedia mengurangi kenyamanan selama perjalanan. Dana yang dapat dihemat dari pembelian bensin bisa dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga lain, termasuk membayar listrik.
Penghematan juga dilakukan dengan menata ulang prioritas pengeluaran. Pengeluaran untuk hiburan dan konsumsi yang tidak mendesak menjadi bagian yang dapat dikurangi ketika kebutuhan rutin dan persiapan keuangan jangka panjang lebih diutamakan.
Pekerja swasta lainnya, Chandra (30), turut mengurangi aktivitas mencari hiburan di luar rumah demi menekan pengeluaran. Pengalamannya menunjukkan bahwa penyesuaian gaya hidup tidak hanya menyangkut pilihan barang atau transportasi, tetapi juga cara menghabiskan waktu luang.
Fenomena downgrade lifestyle memperlihatkan perubahan cara sebagian pekerja memandang penghasilan. Jika sebelumnya belanja dan menikmati fasilitas tertentu menjadi cara merayakan hasil kerja, kini sebagian memilih membatasi pengeluaran agar memiliki simpanan ketika menghadapi kebutuhan tak terduga atau perubahan kondisi pekerjaan.
