Senin, 12 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Studi Sun Life: 63% Masyarakat Indonesia Khawatir Kekayaan Keluarga Tak Berlanjut ke Generasi Berikutnya

✍️ Edgar Allan Poe 🕒 07 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Ilustrasi: 10 Kiat Membangun Literasi Keuangan Anak Sejak Dini
Ilustrasi: 10 Kiat Membangun Literasi Keuangan Anak Sejak Dini Foto: Ilustrasi AI

Membangun kekayaan keluarga selama puluhan tahun belum tentu menjamin aset tersebut dapat bertahan dan memberikan manfaat hingga generasi berikutnya. Kesiapan ahli waris justru menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian ketika keluarga mulai mempersiapkan proses pewarisan.

Temuan itu terlihat dalam Studi Sun Life Asia 2026 bertajuk Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan. Dari 506 responden di Indonesia yang mengikuti studi tersebut, 63% menyatakan khawatir kekayaan keluarga tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya.

Kekhawatiran tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan besarnya aset yang dimiliki. Sebanyak 58% responden yang memiliki kekhawatiran mengenai keberlanjutan kekayaan keluarga menyebut potensi konflik keluarga sebagai salah satu persoalan, sedangkan 53% mengkhawatirkan kesiapan penerima warisan.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menilai keberhasilan pewarisan tidak cukup diukur dari kemampuan keluarga memindahkan aset kepada generasi penerus. Pemahaman mengenai tujuan kepemilikan aset, tanggung jawab, serta risiko yang menyertainya juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

“Warisan tidak berhenti pada proses memindahkan aset. Kesiapan generasi penerus untuk memahami tujuan, tanggung jawab, dan risiko di balik kekayaan keluarga turut menentukan apakah legacy dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujar Albertus.

Menurut dia, kekayaan keluarga biasanya terbentuk melalui proses panjang. Rumah dapat diperoleh setelah bertahun-tahun menabung, usaha dibangun secara bertahap, sementara investasi dikumpulkan melalui keputusan finansial dalam jangka panjang.

Karena itu, proses menyiapkan generasi penerus idealnya berjalan bersamaan dengan pembangunan aset. Generasi berikutnya perlu memahami alasan sebuah aset dibangun dan bagaimana aset tersebut seharusnya digunakan, bukan hanya mengetahui nominal kekayaan yang akan diterima.

Tantangan tersebut terlihat lebih jelas pada keluarga yang memiliki usaha. Studi Sun Life mencatat 76% responden Indonesia yang memiliki bisnis keluarga mengaku telah mempunyai rencana suksesi. Namun, proporsinya turun cukup jauh ketika menyangkut rencana warisan yang komprehensif dan telah dipahami oleh keluarga, yakni hanya 14%.

Sun Life menyatakan angka pada kelompok pemilik bisnis keluarga tersebut bersifat indikatif karena berasal dari subkelompok responden yang jumlahnya lebih terbatas.

Menurut Sun Life, salah satu langkah yang dapat dilakukan keluarga adalah membicarakan tujuan di balik kepemilikan aset. Pembahasan tidak berhenti pada rumah, tabungan, investasi, atau bisnis, tetapi juga menjelaskan fungsi aset tersebut bagi keluarga, seperti untuk pendidikan, tempat tinggal, modal usaha, kesehatan, maupun kebutuhan jangka panjang.

Pemahaman tersebut diharapkan membuat generasi penerus melihat kekayaan sebagai amanah sekaligus instrumen untuk mencapai tujuan keluarga, bukan semata-mata sumber dana yang dapat langsung digunakan.

Persiapan juga dapat dilakukan dengan memberikan pengalaman mengelola keuangan sebelum aset sepenuhnya berpindah tangan. Kebiasaan membuat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami risiko investasi, serta mengetahui konsekuensi utang dan pengeluaran berlebihan menjadi bagian dari kemampuan dasar yang perlu dibangun.

Pelibatan generasi penerus juga dapat dilakukan secara bertahap. Percakapan dapat dimulai dari nilai dan tujuan keluarga, lalu berkembang menuju pembahasan mengenai aset, tanggung jawab, serta pihak-pihak yang dapat dihubungi ketika generasi berikutnya nantinya mengambil alih pengelolaan kekayaan.

Di sisi lain, keberlanjutan kekayaan juga berkaitan dengan kemampuan keluarga menghadapi risiko yang dapat menggerus aset. Karena itu, perencanaan dapat mempertimbangkan dana darurat serta perlindungan jiwa dan kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing keluarga.

Risiko seperti biaya medis, kehilangan penghasilan, maupun kejadian tidak terduga dapat memberikan tekanan terhadap aset yang selama ini dibangun. Perlindungan terhadap sumber kekayaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keberlanjutan finansial keluarga.

Kebutuhan akan pendampingan juga mulai terlihat dari perilaku responden. Sebanyak 41% responden Indonesia menyatakan telah mencari nasihat profesional mengenai perencanaan warisan, sementara 37% lainnya menyatakan memiliki keinginan untuk melakukan hal serupa.

Pendampingan profesional dapat melibatkan tenaga dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga, mulai dari penasihat keuangan, ahli hukum, hingga konsultan pajak. Kebutuhannya dapat berbeda bergantung pada kompleksitas aset, struktur keluarga, dan kepentingan yang ingin dipertahankan.

“Persiapan ahli waris perlu berjalan seiring dengan pembangunan aset. Perencanaan warisan merupakan bagian dari ketahanan finansial keluarga, dengan menyelaraskan tujuan, perlindungan, pengelolaan kekayaan, dan kesiapan generasi penerus,” kata Albertus.

EP
Edgar Allan PoePemimpin Redaksi
E
epungEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update