Permintaan Listrik Melonjak, Kompor Induksi dan EV Jadi Penopang Baru
Perubahan pola konsumsi energi, pertumbuhan kendaraan listrik, hilirisasi industri, hingga ekspansi pusat data diperkirakan akan mendorong lonjakan kebutuhan listrik Indonesia dalam jangka panjang. Kenaikan permintaan tersebut dinilai sekaligus menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan agenda transisi energi nasional.
Riset Tenggara Strategics bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia memproyeksikan konsumsi listrik meningkat dari 539 Terawatt-hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2020. Catatan: angka tahun “2020” tersebut merupakan angka sebagaimana tercantum dalam materi sumber dan secara kronologis tampak tidak konsisten dengan titik awal 2025.
Kebutuhan listrik yang semakin besar berasal dari sejumlah sektor. Rumah tangga diperkirakan menyerap sekitar 28% dari total konsumsi, sedangkan ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menyumbang sekitar 11%.
Salah satu sumber tambahan permintaan terbesar di sektor rumah tangga berasal dari rencana peralihan penggunaan kompor LPG ke kompor listrik atau induksi. Jika diterapkan secara penuh, program tersebut diperkirakan menciptakan kebutuhan listrik baru antara 27,62 Gigawatt (GW) hingga 53,43 GW, tergantung tingkat efisiensi kompor yang digunakan.
Permintaan tersebut dinilai dapat menjadi penyerap yang relatif stabil bagi pengembangan energi surya berkapasitas 100 GWp. Artinya, elektrifikasi peralatan rumah tangga tidak hanya mengubah pola konsumsi energi, tetapi juga membuka ruang bagi pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih.
Kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG menjadi salah satu pertimbangan penting. Saat ini, LPG mencakup 41,46% dari total konsumsi energi rumah tangga, sementara sekitar 77,6% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.
Peralihan menuju kompor induksi berpotensi mengurangi kebutuhan devisa untuk impor LPG sekaligus menekan anggaran subsidi, terutama apabila teknologi yang digunakan memiliki tingkat efisiensi energi yang lebih tinggi.
Di sektor transportasi, kendaraan listrik juga menjadi salah satu pendorong perubahan konsumsi energi. Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter (KL) atau 65% konsumsi bensin nasional masih berasal dari impor.
Setiap penambahan 1 juta unit kendaraan listrik diperkirakan dapat menghemat hingga 1.250 KL bensin per tahun. Selain mengurangi kebutuhan bahan bakar impor, perkembangan industri EV di dalam negeri diperkirakan berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru.
Kebutuhan listrik tidak hanya datang dari proses elektrifikasi rumah tangga dan transportasi. Aktivitas industri juga menjadi sumber permintaan baru, terutama melalui pengembangan hilirisasi mineral.
Mengacu pada RUPTL 2025–2034, hilirisasi nikel membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit captive sekitar 13,6 GW. Pada saat yang sama, ekspansi pusat data diproyeksikan menambah permintaan listrik hingga 1,7 GW pada pertengahan 2027.
Temuan mengenai prospek permintaan listrik tersebut dipaparkan dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri yang membuka acara tersebut menyoroti besarnya peluang dari elektrifikasi sekaligus kebutuhan akan pasokan energi yang lebih hijau.
Sementara itu, Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Gigih Udi Atmo menekankan bahwa percepatan elektrifikasi perlu mempertimbangkan aspek efisiensi agar ketahanan energi tetap terjaga.
Gigih mencontohkan penggunaan kompor induksi yang bukan hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG, tetapi juga memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi.
Besarnya potensi permintaan dari berbagai sektor tersebut membuat elektrifikasi memiliki posisi strategis dalam agenda energi Indonesia. Di sisi lain, peningkatan konsumsi listrik perlu berjalan bersama upaya mencapai target net zero emissions dan mempercepat dekarbonisasi.
