Merger US$110 Miliar Tuntas, Paramount dan Warner Bros Bersatu di Bawah Skydance
Peta persaingan industri hiburan global memasuki babak baru setelah Paramount Skydance resmi mengambil alih Warner Bros Discovery melalui transaksi senilai US$110 miliar. Penggabungan tersebut melahirkan entitas baru bernama Skydance Corporation dengan portofolio bisnis yang membentang dari film dan televisi hingga layanan streaming.
Kekuatan perusahaan gabungan itu berasal dari kepemilikan berbagai merek besar Hollywood. Dari Warner Bros Discovery terdapat HBO, Warner Bros, CNN, DC Studios, Food Network, serta sejumlah aset lainnya. Sementara Paramount membawa merek seperti CBS, Nickelodeon, Showtime, dan Comedy Central.
Skydance Corporation juga mewarisi katalog waralaba yang telah memiliki basis penggemar global. Warner Bros menyumbang Harry Potter, Game of Thrones, dan The Lord of the Rings, sedangkan Paramount memiliki Indiana Jones, Mission: Impossible, dan Shrek.
Bagi industri hiburan, skala tersebut membuat merger ini menjadi salah satu perubahan korporasi besar yang berpotensi memengaruhi persaingan antara studio film, jaringan televisi, dan platform streaming. Proses menuju kesepakatan pun berlangsung panjang dan sempat diwarnai persaingan penawaran, gugatan hukum, serta kekhawatiran mengenai semakin terkonsentrasinya kepemilikan media.
Paramount Skydance sebelumnya harus bersaing dengan Netflix dalam perebutan sebagian bisnis Warner Bros Discovery. Setelah proses tersebut berakhir, Skydance Corporation kini harus mengintegrasikan bisnis dan aset dari dua perusahaan besar yang memiliki struktur serta lini usaha berbeda.
Chairman sekaligus CEO Skydance Corporation David Ellison menyebut penyelesaian transaksi sebagai titik penting bagi perusahaan maupun industri film.
"Sejak awal, ambisi kami adalah menyatukan dua studio besar ini dan menciptakan pesaing yang lebih kuat, dengan talenta, sumber daya, serta jangkauan untuk menghadirkan cerita-cerita hebat dalam setiap genre, di setiap platform, bagi penonton di seluruh dunia. Kini, ambisi tersebut menjadi kenyataan," kata Ellison, mengutip BBC, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Namun, besarnya skala bisnis yang terbentuk juga diikuti persoalan finansial. Head of Markets AJ Bell Dan Coatsworth menilai perusahaan gabungan akan menghadapi beban utang besar ketika suku bunga masih berada pada tingkat tinggi.
Menurut Coatsworth, tekanan tersebut akan membuat Skydance perlu meningkatkan profitabilitas sekaligus menekan biaya agar posisi utangnya dapat dikendalikan.
"Perusahaan gabungan yang kini bernama Skydance harus memangkas biaya dan meningkatkan keuntungan agar utangnya dapat ditekan ke tingkat yang lebih terkendali," ujarnya.
Kinerja bisnis film menjadi salah satu area yang akan mendapat perhatian. Coatsworth menyoroti kegagalan film Digger, yang disebut sebagai film terakhir Warner Bros sebelum merger, sebagai pengingat bahwa investasi besar di industri perfilman tidak selalu menghasilkan keuntungan.
