Kementan Ungkap 30% Bahan Baku Pakan Unggas Masih Bergantung Impor
JAKARTA — Ketergantungan industri pakan unggas terhadap bahan baku dari luar negeri masih cukup tinggi. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan sekitar 25%–30% komponen bahan baku pakan unggas masih berasal dari impor, terutama untuk memenuhi kebutuhan sumber protein.
Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Makmun mengatakan salah satu bahan yang paling dominan berasal dari impor adalah soybean meal (SBM). Bahan tersebut digunakan dalam formulasi pakan ayam broiler maupun layer, tetapi kebutuhan SBM nasional hingga kini masih dipenuhi melalui impor.
Untuk pakan ayam pedaging atau broiler, jagung menjadi komponen terbesar dengan porsi sekitar 45%. Formulasi tersebut juga mencakup dedak atau bekatul sekitar 5%, bungkil inti sawit 5%, serta crude palm oil (CPO) 5%.
Sementara itu, porsi SBM dalam pakan broiler mencapai sekitar 25% dan seluruh kebutuhan tersebut masih berasal dari impor. Bahan impor lainnya mencakup meat and bone meal (MBM) sekitar 3%, serta distillers dried grains with solubles (DDGS) dan corn gluten meal (CGM).
“Kalau pakan broiler, [komposisi] jagung itu 45%, kemudian bahan baku lokal, dedak atau bekatul itu 5%, bungkil inti sawitnya 5%, CPO 5%, SBM ini yang biasanya diimpor ya 100% ya diimpor SBM itu [komposisi] 25%, MBM 3,0%, ini yang biasanya diimpor. Kemudian, ada DDGS sama CGM, itu yang bahan baku yang biasa diimpor,” kata Makmun dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 di YouTube Kemendagri RI, Senin (5/10/2026).
Komposisi bahan pakan ayam petelur atau layer memiliki perbedaan. Porsi jagung tetap berada di sekitar 45%, sedangkan penggunaan SBM lebih rendah, yakni sekitar 20%.
Dengan struktur tersebut, Kementan menilai pengurangan ketergantungan impor menjadi salah satu pekerjaan yang perlu didorong melalui pengembangan sumber bahan baku dalam negeri. Upaya tersebut menjadi semakin relevan ketika harga sejumlah komoditas pakan mengalami kenaikan.
Makmun menyebut harga jagung di sejumlah wilayah telah berada di atas Rp7.000 per kilogram. Kenaikan terutama terjadi ketika daerah sentra produksi mulai memasuki periode setelah panen dan pasokan di pasar mengalami penurunan.
Sejumlah wilayah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) disebut mulai memasuki kondisi tanpa panen jagung. Berkurangnya stok di wilayah tersebut ikut mendorong harga jagung dan kemudian meningkatkan harga pokok produksi (HPP) peternak.
“Dan ini memang ada kenaikan harga karena memang di akhir tahun di daerah-daerah seperti NTB, Gorontalo, NTT itu kan tidak ada panen jagung lagi sehingga memang stok menurun. Harga saat ini di atas Rp7.000 [per kilogram] sehingga HPP-nya teman-teman memang sedikit naik,” katanya.
Tekanan dari bahan baku menjadi signifikan karena komponen tersebut mendominasi struktur biaya pakan. Kementan mencatat sekitar 85% biaya pakan berasal dari bahan baku, sedangkan 15% lainnya mencakup biaya operasional.
Komponen biaya operasional tersebut meliputi biaya finansial, biaya produksi, margin keuntungan atau profit margin, serta biaya pemasaran atau marketing. Struktur biaya ini membuat perubahan harga bahan baku memiliki pengaruh terhadap biaya pakan secara keseluruhan.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor, Kementan kini mendorong penelitian mengenai pemanfaatan sumber bahan baku lokal. Salah satu alternatif yang tengah dikembangkan adalah bahan berbasis sawit yang diharapkan dapat menggantikan sebagian kebutuhan SBM.
Makmun mengatakan penelitian substitusi SBM tersebut masih berlangsung melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi. Tantangan riset antara lain berkaitan dengan pemanfaatan material keras dari sawit yang sejauh ini masih memiliki keterbatasan penggunaan.
“Kalau bisa di atas 10%, ini riset-riset sedang dilakukan oleh teman-teman di BRIN dan perguruan tinggi, kalau ini bisa di atas 10% maka akan menurunkan impor SBM kita, bisa disubstitusi dari CPO ini. Mudah-mudahan ke depan risetnya makin cepat,” tandasnya.
Pengembangan substitusi bahan baku tersebut diarahkan untuk memperbesar pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus menekan kebutuhan impor SBM. Namun, realisasinya masih bergantung pada hasil penelitian yang saat ini terus dikembangkan bersama BRIN dan perguruan tinggi.
