Senin, 12 Okt 2026 NewsEkonomiSportOtomotifWisata
Breaking
Beranda › News
News

Kabut Asap Indonesia Memburuk, Malaysia Tutup 200 Sekolah Jelang F1 Singapura

✍️ tino 🕒 07 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Penampakan kabut asap membekap Kuala Lumpur Malaysia, dan sejumlah wilayah lainnya. Tripodnews/REUTERS
Penampakan kabut asap membekap Kuala Lumpur Malaysia, dan sejumlah wilayah lainnya. Tripodnews/REUTERS Foto: Penampakan kabut asap membekap Kuala Lumpur Malaysia, dan sejumlah wilayah lainnya. Tripodnes/REUTERS

Jakarta, Tripodnews.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali berdampak ke sejumlah negara Asia Tenggara. Malaysia bahkan menutup sementara sekitar 200 sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak di Distrik Batu Pahat, Johor, akibat memburuknya kualitas udara.

Penutupan dilakukan pada Rabu (7/10), hanya beberapa hari menjelang penyelenggaraan ajang Formula 1 (F1) di Singapura. Batu Pahat berjarak sekitar 140 kilometer dari Singapura.

Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi kabut asap yang dinilai membahayakan kesehatan masyarakat. Sementara itu, kualitas udara di Kuala Lumpur juga berada pada kategori “sangat tidak sehat” pada Rabu pagi.

Berdasarkan data IQAir, Kuala Lumpur bahkan sempat tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia.

Dampak kabut asap juga dirasakan Singapura. Data pemerintah menunjukkan kualitas udara di tiga dari lima wilayah negara kota tersebut berada pada level tidak sehat.

Kondisi ini menjadi perhatian karena Singapura akan menggelar ajang F1 tahunan dalam beberapa hari ke depan.

Juru bicara Singapore GP Pte Ltd, selaku penyelenggara balapan, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memantau perkembangan kualitas udara.

“Jika kabut asap menyebabkan masalah visibilitas, kesehatan masyarakat, atau operasional, kami akan bekerja sama dengan lembaga terkait untuk menilai situasi sebelum mengambil keputusan bersama terkait acara tersebut,” ujar juru bicara tersebut.

Sementara itu, juru bicara Formula 1 menyatakan kondisi kabut asap saat ini belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Kabut asap pekat telah menyelimuti sejumlah wilayah Asia Tenggara dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika Indonesia menghadapi salah satu musim kebakaran hutan dan lahan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Kebakaran antara lain dipicu praktik pertanian tebang dan bakar yang telah berlangsung lama. Kondisi tersebut diperburuk fenomena El Niño yang semakin intens sehingga membuat lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar.

Kelompok lingkungan Greenpeace sebelumnya mengidentifikasi lebih dari 20 perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit, pulp, dan gula yang konsesi lahannya mencakup area yang menjadi sumber asap dari kebakaran.

Sejumlah perusahaan tersebut diketahui memiliki keterkaitan dengan Malaysia dan Singapura.

Berdasarkan platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas yang terdeteksi pada bulan lalu menjadi yang tertinggi sejak 2015.

Pada tahun tersebut, kawasan Asia Tenggara juga dilanda keadaan darurat kabut asap regional yang menyebabkan gangguan aktivitas masyarakat sekaligus memicu ketegangan diplomatik antarnegara.

Dampak buruk kualitas udara juga mulai dirasakan dalam sejumlah kegiatan olahraga di Malaysia.

Pekan lalu, penyelenggara Kuala Lumpur Standard Chartered Marathon membatalkan kategori lomba untuk anak-anak karena kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan peserta.

Namun, kategori lainnya tetap digelar, termasuk maraton penuh dan setengah maraton.

Kondisi udara yang buruk diduga turut memengaruhi performa peserta. Para pelari tercepat dalam kategori maraton penuh mencatat waktu yang lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kuala Lumpur Standard Chartered Marathon juga pernah dibatalkan pada 2015 ketika kawasan tersebut dilanda kabut asap parah.

Kini, perhatian kembali tertuju pada Singapura. Ajang F1 yang menjadi salah satu agenda olahraga dan pariwisata penting di negara tersebut akan berlangsung di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik.

T
tinoRedaktur
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update