IPW: Ada Aktor Intelektual di Balik Kerusuhan Demo 27 Agustus
Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso menduga kerusuhan yang berlangsung hingga 28 Agustus dini hari itu bukan terjadi secara spontan
JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polda Metro Jaya mengusut dugaan keterlibatan pihak ketiga atau aktor intelektual di balik kerusuhan yang terjadi setelah demonstrasi pada 27 Agustus 2026.
Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso menduga kerusuhan yang berlangsung hingga 28 Agustus dini hari itu bukan terjadi secara spontan. Menurutnya, terdapat kelompok yang memanfaatkan aksi demonstrasi untuk menciptakan gangguan keamanan.
"Indonesia Police Watch mendorong pihak kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya, untuk mengusut adanya pihak ketiga, aktor intelektual, atau provokator yang menggerakkan aksi demo dengan melakukan kerusuhan setelah pukul 19.00 pada 27 Agustus 2026," ujar Sugeng dalam keterangannya, Sabtu, 5 September 2026.
Sugeng menyebut aksi demonstrasi berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang pertama sebelum pukul 18.00 WIB diikuti AMPB dan mahasiswa yang menyampaikan tuntutan pemberantasan korupsi serta pengesahan RUU Perampasan Aset secara tertib.
Sementara setelah pukul 19.00 WIB, muncul kelompok anak muda yang diperkirakan berjumlah lebih dari 1.500 orang. IPW menduga kelompok tersebut bukan datang untuk menyampaikan pendapat.
"Gelombang kedua adalah demo pada 27 Agustus 2026 pasca jam 19.00 WIB hingga 28 Agustus 2026 subuh, yaitu munculnya kelompok-kelompok yang terdiri dari anak muda yang diperkirakan jumlahnya 1.500 orang lebih, bukan untuk menyampaikan pendapat di muka umum," jelas Sugeng.
IPW menduga kelompok tersebut melakukan perusakan CCTV dan fasilitas umum di sekitar Gedung DPR RI. Polisi juga diminta menelusuri kelompok yang menggunakan lebih dari 150 sepeda motor serta kelompok yang diduga berasal dari ormas dan terlibat bentrokan.
Sugeng meminta polisi membongkar dugaan aktor di balik kerusuhan, termasuk menelusuri komunikasi dan aliran dana.
"IPW melihat adanya pihak ketiga atau aktor intelektual yang berupaya menciptakan kondisi tidak aman dengan membenturkan kelompok masyarakat sipil ini dengan aparat keamanan yang berjaga dan mengamankan demo serta bentrokan horizontal sesama kelompok masyarakat sipil," beber Sugeng.
IPW juga menyoroti temuan lebih dari 30 senjata tajam dan golok, ketapel, airsoftgun, lebih dari 200 botol kaca, serta 12 jeriken bensin. Polisi diminta mendalami asal-usul dan penggunaan barang-barang tersebut.
Selain itu, IPW meminta Polda Metro Jaya mengusut kematian Bambang Setiawan yang diduga akibat kekerasan kelompok sipil. Keberadaan ormas Grib di lokasi pada malam kejadian juga diminta untuk didalami.
"Peristiwa ini harus diusut, termasuk keberadaan ormas Grib di lokasi pada malam hari juga harus diusut," tegas Sugeng.
IPW mencatat 42 anggota polisi terluka dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Sementara itu, satu warga sipil, Bambang Setiawan, meninggal dunia dan 13 lainnya mengalami luka-luka.
IPW meminta kepolisian mengusut tuntas rangkaian kerusuhan tersebut untuk mengungkap pihak yang diduga merancang dan menggerakkan aksi.
