Greenpeace Ungkap 6.811 Titik Asap dalam 3 Bulan, Karhutla Makin Mengkhawatirkan
Greenpeace Indonesia mengungkap temuan mengejutkan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Sedikitnya 6.811 titik sumber asap terdeteksi tersebar di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 8 Agustus hingga 1 Oktober 2026.
Temuan tersebut diperoleh Greenpeace Indonesia melalui analisis sedikitnya empat citra satelit dengan mengelaborasi sejumlah lapisan data untuk mengidentifikasi persebaran titik sumber asap.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belgis Habiba, mengatakan ribuan titik sumber asap tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Dari analisis kami, kami menemukan sejumlah 6.811 titik sumber asap yang tersebar di Indonesia sepanjang 8 Agustus hingga 1 Oktober 2026,” kata Belgis dalam konferensi pers, Senin (5/10/2026).
Berdasarkan wilayah, Kalimantan menjadi pulau dengan jumlah titik sumber asap terbanyak, yakni mencapai 3.628 titik.
Papua berada di posisi berikutnya dengan 1.634 titik, disusul Sumatera sebanyak 1.322 titik. Sementara itu, Greenpeace menemukan 152 titik sumber asap di Maluku dan sisanya tersebar di wilayah Sulawesi.
Belgis mengatakan tingginya jumlah titik sumber asap di Papua perlu menjadi perhatian. Sebab, kondisi tersebut menunjukkan munculnya episentrum baru kebakaran hutan dan lahan yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan wilayah Kalimantan dan Sumatera.
“Ini menunjukkan adanya episentrum baru kebakaran hutan dan lahan yang perlu mendapatkan perhatian,” kata Belgis.
Greenpeace juga mengelompokkan titik sumber asap berdasarkan sejumlah entitas pengelolaan lahan.
Dari 141 kesatuan hidrologis gambut yang diidentifikasi, Greenpeace menemukan sebanyak 3.557 titik sumber asap.
Sementara pada 120 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), ditemukan 970 titik sumber asap. Adapun pada 233 izin perkebunan kelapa sawit, terdapat 980 titik sumber asap.
Selain itu, Greenpeace mencatat 3.177 titik sumber asap berada di seluruh kawasan hutan produksi. Sedangkan pada 44 kawasan konservasi yang diidentifikasi, terdapat 862 titik sumber asap.
Tak hanya itu, sebanyak 2.719 titik sumber asap ditemukan di wilayah yang sebelumnya mengalami kebakaran berulang pada periode 2015, 2019 hingga 2023.
Temuan tersebut dinilai memperlihatkan adanya pola berulang dalam kejadian karhutla di Indonesia.
Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menilai karhutla yang terjadi pada 2026 tidak dapat hanya dikaitkan dengan musim kemarau.
Menurut dia, kebakaran yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari persoalan panjang akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut di Indonesia.
“Kebakaran hutan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari akumulasi krisis yang terjadi akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut di Indonesia,” kata Putra.
Putra mengingatkan karhutla di Indonesia telah berulang sejak dekade 1980-an.
Ia menyinggung kebakaran besar pada 1982-1983, kemudian kebakaran pada 1997 setelah pembukaan lahan gambut melalui proyek lahan gambut satu juta hektare di Kalimantan Tengah.
Kebakaran kembali terjadi dalam skala besar pada 2015, 2019, 2023 hingga kembali muncul pada 2026.
Pantau Gambut sejak Juli 2025 telah mempublikasikan kondisi ekosistem gambut Indonesia. Dari total sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut, sekitar 16 juta hektare disebut memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Pantau Gambut juga menemukan 936 perusahaan dengan konsesi PBPH dan praktik reklamasi ekosistem yang menguasai sekitar 8,3 juta hektare kesatuan hidrologis gambut di berbagai wilayah Indonesia.
Putra turut menyinggung hasil studi Pantau Gambut berjudul Satu Dekade Restorasi Ekosistem Gambut Indonesia.
Menurutnya, pemulihan lahan gambut pascakebakaran belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.
Pada area gambut non-konsesi yang terbakar sepanjang 2015-2024, hanya sekitar 3 persen lahan yang kembali menjadi hutan.
Sebaliknya, sebanyak 54 persen area gambut non-konsesi yang terbakar berubah menjadi tanaman monokultur, seperti akasia dan sawit.
“Pada area gambut non-konsesi yang terbakar kita mencatat hanya 3% lahan yang kembali benar-benar menjadi hutan. Sisanya area tersebut berubah menjadi semak belukar dan, lebih ironisnya, kita menemukan sebanyak 54% berubah menjadi tanaman-tanaman monokultur seperti akasia dan sawit,” ujar Putra.
Temuan Greenpeace dan Pantau Gambut tersebut kembali menyoroti persoalan karhutla yang dinilai bukan sekadar persoalan tahunan ketika musim kemarau tiba, melainkan berkaitan dengan kondisi ekosistem gambut, tata kelola lahan, serta upaya pemulihan kawasan yang telah terbakar.
